The news is by your side.

Cerita Alquran Abad 17 yang sampulnya dari Kulit Binatang dan Kini Masih Tersimpan Rapi

0

Oleh: Rosid  |

Balicitizen.com, Denpasar – Kelurahan Serangan atau yang dikenal dengan Kampung Bugis menyimpan banyak cerita perihal masuknya peradaban Islam di pulau Bali. Hal tersebut nampak dari peninggalan-peninggalan yang hingga kini masih terawat.

Satu di antaranya adalah Al Qur’an kuno. Muhammada Syukur, pria yang mewarisi saksi sejarah tersebut menceritakan sampul Al Qur’an ini terbuat dari kulit Unta. Uniknya, kitab suci bagi umat muslim ini Al memiliki panjang 40 centi meter (cm) dan lebar 20 cm. Bahkan, hurufnya ditulis tangan di kertas yang berserat.

Dari cerita yang ia dengar, Al Qur’an tersebut dibawa oleh para tokoh-tokoh Islam Bugis dari Ujung Pandang, Sulawesi. Saat itu mereka keluar Sulawesi pada zaman penjajahan kolonial belanda (VOC), pada abad ke-17.

“Dulu kakek-kakek kita yang membawa Al Qur’an ini ke sini. Datok Marzuki itu dapat warisan dari Datoknya (kakeknya),” kata Syukur.

Dulunya, Al Qur’an kuno ini digunakan untuk tadarus saat bulan suci Ramadhan. Pasalnya, saatbitu belum banyak Al Qur’an yang dimiliki. Kini, Al Qur’an tersebut tak lagi digunakan karena kondisinya yang semakin lapuk.

“Kondisi Masjid pun sudah mulai bagus, juga karena adanya campur tangan pemerintah karena banyaknya sumbangan Al Qur’an yang datang sehingga kita tidak pakai Al Qur’an ini lagi. Takutnya rusak karena dibawa kemana-mana, jadi disimpan sama Datok saya, biar terawat,” kata dia.

Al Qur’an kuno kini tersimpan rapi di dalam box kaca di rumahnya, masih dalam lingkungan Masjid As Syuhada Kampung Bugis, Serangan, Denpasar. Setiap tahun Al Qur’an ini dibawa keliling kampung oleh warga di sana. Muasalnya, saat itu warga Muslim kampung Islam Bugis terkena musibah dan Al Quran kuno dipercaya bisa menyembuhkan penyakit.

“Akhirnya diiputuskan bahwa Al Qur’an itu diarak keliling kampung,” urainya. Ari/Balicitizen

Berita Terkait

Leave A Reply

Your email address will not be published.