The news is by your side.

Din: Faktor Politik Ganggu Keharmonisan Umat Beragama

0

Oleh: Azhar AP  |

Balicitizen.com, Jakarta – Pendiri Centre for Dialogue and Cooperation among Civilizations (CDCC) Prof Din Syamsuddin menyatakan, tingkat kerukunan kehidupan umat beragama di Indonesia terbilang harmonis dan bagus. Namun faktor politik telah mengganggu keharmonisan tersebut.

“Rekonsiliasi ke depan tidak hanya sebatas rekonsiliasi politik semata,” kata Din di Jakarta, Rabu (30/10).

Din menjelaskan, rekonsiliasi tidak hanya sebatas akomodasi dalam struktur kekuasaan dan kabinet belaka. Syarat utama rekonsiliasi adalah saling mengakui kesalahan, saling memaafkan dan membangun kerjasama sinergis.

“Rekonsiliasi akan terus kita lakukan dengan membangun dialog terus menerus. Kerjasama ini tidak hanya di tataran politik saja, melainkan juga di level ekonomi,” katanya.

Sementara, Wakil Ketua MPR RI Ahmad Basarah menilai kompetisi politik dapat dikatakan sudah mencapai rekonsiliasi. Namun pembelahan yang berlatar belakang ideologis tampaknya masih memerlukan perhatian khusus.

“Ada beberapa hal yang menunjukkan hal tersebut. Pertama rekonsiliasi di tataran elite politik sudah cair,” kata dia.

Salah satu parameternya adalah pelantikan Presiden-Wakil Presiden lalu dihadiri segenap kontestan pemilu. Rekonsiliasi juga telah ditunjukkan oleh serangkaian pertemuan yang melibatkan aktor-aktor politik utama.

“Kedua, rekonsiliasi di tataran sosio-kultural. Ini lebih bagaimana menyadarkan dan memulihkan kondisi antar masyarakat kepada kondisi semula,” ujarnya.

Kendati pelaksanaan Pemilu 2019 sudah usai, namun demikian segregasi di dalam masyarakat menjadi agenda mendesak yang harus dituntaskan. Hal ini perlu peran tokoh masyarakat dan tokoh agama mengingat karakter masyarakat Indonesia masih patron-klien.

“Ketiga rekonsiliasi yang sifatnya ideologis. Hal ini terlihat jelas dengan adanya wacana di sebagian masyarakat yang mempersoalkan kembali relasi antara negara dan agama, antara Islam dan Pancasila, mempertentangkan bentuk NKRI dengan bentuk Khilafah,” kata Basarah.

Bahkan berusaha mempraktikkan kembali politik Divide et Impera atau politik adu domba antara golongan Islam dan Nasionalis serta ingin memecah belah soliditas TNI dan Polri. Menurut dia, rekonsiliasi dalam tataran ideologis yang menjadi parameternya adalah ketika segenap anak bangsa kembali kepada kesepakatan dasar bernegara.

“Jangan ada nasionalisme phobia dan Islamphobia. Disini kita berupaya mengajak kembali segenap anak bangsa kembali ke jalan Pancasila,” kata Basarah. Ari/INI/Balicitizen

Berita Terkait

Leave A Reply

Your email address will not be published.