The news is by your side.

Hutan Biuk, Sumber Kehidupan Masyarakat Kampung Naga

0

Oleh: Anisa Tri Kusuma |

Masyarakat kampung adat Naga meyakini bahwa hutan adalah sumber kehidupan mereka

Balicitizen.com, Jakarta — Hidup berdampingan dengan alam, menjadi sebuah kepercayaan yang dipegang teguh oleh masyarakat Kampung Naga di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Hal ini karena warga Kampung Naga terus bertahan menjaga adat tradisi karuhun (leluhur) yang sudah berlangsung selama ratusan tahun.

Salah satu adat yang dipertahankan hingga kini adalah melestarikan hutan di hulu sungai. Hutan itu dikenal dengan nama Hutan Biuk atau Leuweung Naga, yang luasnya hanya sekitar 1,5 hektar. Jika tak dilestarikan, mereka percaya hidup mereka tak akan selamat.

Prinsip hidup menyatu dengan alam, terbukti membuat sungai Ciwulan tak hanya terus bertahan sepanjang masa, tetapi juga memberikan manfaat bagi banyak orang di tepiannya. Hutan Biuk sendiri terletak di daerah perbukitan lereng barat daya Gunung Galunggung. Kawasan ini merupakan daerah hulu aliran sungai Ciwulan.

Kampung adat tradisional Naga terletak 500 meter di bawah jalan provinsi Tasikmalaya-Bandung, atau 30 kilometer barat kota Tasikmalaya. Sepanjang tahun, air Sungai Ciwulan tak hanya menghidupi masyarakat Kampung Naga dan keturunannya, tetapi juga warga lainnya.

Air Sungai Ciwulan tak sekadar melimpah, tetapi juga bersih. Lebih dari 1.200 keluarga warga Desa Margalaksana dan sebagian besar penduduk di Tasikmalaya barat, khususnya Kecamatan Taraju dan Mangunreja yang ditopang sumber air dari Hutan Biuk itu.

Namun, berkat air yang mengalir tak berkesudahan itu tak datang dengan sendirinya. Warga Kampung Naga mencoba menghargai kehidupan alam lewat pelestarian Sungai Ciwulan.

Saat ini, jumlah rumah di kampung adat ini ada 103 buah ditambah dua bangunan berupa balai pertemuan dan masjid. Rumah-rumah yang tipe ataupun ukurannya sama ini diisi sekitar 400 jiwa warga kampung Naga. Sejak ratusan tahun lalu, saat Kampung Adat Naga baru berdiri, mereka percaya bahwa dengan terus menjaga kualitas air sungai Ciwulan akan membuat urat nadi kehidupan mereka tetap berjalan.

Perlindungan itu diwujudkan dalam konsep pelestarian hutan lindung di hulu sungai Ciwulan. Sebab itu, keberadaan pohon besar di hutan lindung diyakini akan terus memberikan aliran air tanpa henti bagi Sungai Ciwulan. Tak heran jika beragam pohon besar hingga variasi tanaman obat tumbuh subur di Hutan Biuk.

Bahkan, siapa pun tidak boleh masuk ke hutan Biuk yang terletak di kaki Gunung Karacak, termasuk warga Kampung Naga. Dan jika ada pohon tumbang di Hutan Biuk, warga sama sekali tidak boleh menjamahnya, kalaupun mendapat izin untuk mengambil tanaman obat di sekitar hutan, warga Kampung Naga harus mematuhi perintah dari tetua adat.

Untuk menjaga kelestarian air, masyarakat Kampung Naga juga dilarang mengambil ikan sembarangan. Hanya saat tertentu, adat memperbolehkan masyarakat mengambil ikan dalam jumlah besar. Tradisi itu dinamakan masyarakat Naga sebagai upacara adat Marak.

Tradisi marak adalah membendung sebelah Sungai Ciwulan di pinggir kampung untuk mencari ikan-ikan di sungai tersebut. Hampir semua laki-laki warga kampung ikut turun untuk membendung sungai Ciwulan. Setelah airnya surut, ikan- ikan pun akan lebih mudah untuk ditangkap.

Warga yang mencari ikan kokolot Naga dilarang menggunakan racun kimia berbahaya. Kalaupun menggunakan racun, haruslah berasal dari obat tradisional, yang ramuannya dari akar pohon tertentu yang boleh digunakan untuk memabukkan ikan. Hal tersebut tentunya dilakukan untuk tetap menjaga keasrian air sungai Ciwulan. (Kbb)

Berita Terkait

Leave A Reply

Your email address will not be published.