The news is by your side.

Iuran BPJS Naik Picu Warga Pindah Kelas, Kamar Kelas III Harus Ditambah

0

Oleh: Hari Santosa  |

Balicitizen.com, Denpasar – Iuran Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan naik 100 persen mulai 1 Januari 2020. Kenaikan iuran BPJS Kesehatan itu diputusan oleh Presiden Joko Widodo melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 75 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Perpres Nomor 82 Tahun 2018 tentang Jaminan Kesehatan. Untuk Kelas I, iurannya naik dari Rp80.000 menjadi Rp160.000, kelas II dari Rp51.000 menjadi Rp110.000, dan kelas III dari Rp25.500 menjadi Rp42.000

Koordinator Wilayah Masyarakat Peduli BPJS (KORWIL MP BPJS) Fachrudin Piliang mengatakan, efek dari kebijakan pemerintah menaikan iuran BPJS Kesehatan ini adalah meningkatnya jummlah peserta Kelas I dan Kelas II pindah ke kelas III.  Menurut dia, sejak keluarnya Perpres yang mengatur kenaikan iuran BPJS Kesehatan itu, gerakan pindah kelas peserta BPJS kesehatan sudah terjadi di banyak daerah. “Warga saat ini banyak turun kelas dari Kelas I atau Kelas II pindah ke kelas III. Ini karena iuran kelas III yang paling murah, yakni Rp42.000. Pilihan pindah kelas ini bagi yang masih mampu membayar, tapi bagi yang tidak mampu ya akan menambah jumlah peserta menunggak saja,” kata Fachrudin di Denpasar (8/11).

Dengan meningkatnya jumlah peserta BPJS Kesehatan pindah Kelas III, ia meminta pemerintah untuk menambah jumlah fasilitas kamar kelas III di setiap Rumah Sakit mitra BPJS Kesehatan. “Efek dari gerakan pindah kelas itu pasti membludaknya kebutuhan fasilitas kamar kelas III. Sekarang saja fasilitas kamar rawat inap sering penuh, apalagi dengan berpindahnya peserta BPJS Kesehatan dari kelas I dan II ke kelas III. Peserta BPJS Kesehatan saat ini sudah tembus lebih dari 222 juta orang,” kata Fachrudin.

Lebih lanjut ia mengatakan, ke depan pasien peserta BPJS Kesehatan harus mendapat pelayanan yang baik dari RUmah Sakit. “Keterbukaan informasi, kepastian pelayanan kesehatan dan tersedianya kamar rawat inap menjadi sangat penting. Jangan sampai iuran sudah naik 100% namun pelayanan masih buruk, kamar rawat inap selalu penuh, antrian pasien yang mengular, stok obat dan darah kosong, dan lainnya tidak boleh terjadi lagi itu,” pungkas Fachrudin. Ari/Balicitizen

Berita Terkait

Leave A Reply

Your email address will not be published.