The news is by your side.

Kemenag Dipimpin Purnawirawan Jenderal, Apa Tanggapan Pejabat Kemenag?

0

Oleh: Azhar Ap  |   

Balicitizen.com, Jakarta – Pascareformasi, baru kali ini Kementerian Agama (Kemenag) dinakhodai oleh purnawirawan militer yang juga mantan Wakil Panglima TNI, Jenderal (Purn) Fachrul Razi. Lulusan Akabri ini berpengalaman dalam bidang infanteri.

Dalam sambutannya, Fachrul mengaku bahwa dia bukan lulusan pesantren atau instansi keagamaan lain. Namun dia mengaku mendapatkan ilmu keagamaan yang sangat kuat ketika masuk kedalam Akademi Militer (Akmil).

Ia mempelajari bidang kegamaan bersama teman-temannya yang tergabung dalam Taruna Masjid. Setelah tamat Akmil, Fachrul melanjutkan untuk berdakwah kepada masyarakat dengan konsep pembinaan teritorial dari satu tempat ke tempat lain, ia mengajarkan nilai-nilai keislaman yang rahmatan lil alamin.

Selain itu, dalam berbagai kesempatan ia sering menyampaikan bahwa Islam tidak mengajarkan nilai ekstremitas dan radikalisme yang berujung pada kekerasan dan terorisme. Sejatinya, Islam adalah agama damai bagi seluruh makhluk.

Mungkin ini menjadi latar belakang bagi Presiden Joko Widodo (Jokowi) memilih kabinetdi bidang agama. Terlebih dalam pengumuman kabinetnya pagi tadi, Jokowi menyatakan bahwa salah satu garapan Menag Fachrul adalah radikalisme.

Pastinya, narasi-narasi ini akan selalu membayangi wajah Kementerian Agama ke depan, yaitu perang melawan radikalisme, apalagi dipimpin oleh seorang purnawirawan jenderal. Lantas, bagaimana dengan sikap internal Kemenag yang selama ini dipimpin oleh sipil?

“Ya, kita ini sebagai ASN (aparatur sipil negara) tentu menerima semua keputusan dari pimpinan tertinggi,” kata Sekjen Kemenag, Nur Cholis saat ditemui Indonesia Inside, Rabu (23/10).

Ia berpendapat, presiden sudah memilih orang yang terbaik untuk Kemenag. Tinggal bagaimana nanti pejabat Kemenag menyesuaikan arahan dan kebijakan Menag Fachrul Razi di masa mendatang.

“Nah, mengapa kita ada sertijab (serah terima jabatan)? Itu dalam rangka kontuinitas,” katanya. Dua kata kunci ketika Sertijab, ujarnya, yaitu kontuinitas dan change. Melanjutkan yang sudah bagus dan perlu ada perubahan-perubahan seiring dengan dinamika yang ada.

“Sehingga kami dan (Kemenag) daerah menunggu arahan dan kebijakan,” ujarnya. Kendati begitu, ia meyakini tidak akan ada resistensi yang timbul ke depan. Prinsipnya, kata Nur Cholis, ASN Kemenag samina wa atho’na (dengar dan taat).

“Apapun kebijakan itu, kita akan men-delivery dan menyesuaikan dengan SOP yang ada. Kalau tadi kita dengar, respon beliau (Fachrul) sangat positif, ‘kami akan melanjutkan’, jadi konsep kontuinitas dan inovasi pasti akan terjadi di masa mendatang,” tuturnya. Ari/INI/Balicitizen

Berita Terkait

Leave A Reply

Your email address will not be published.