The news is by your side.

Kisah Pak Ndul, Petani Asal Madiun yang Viral di YouTube

0

Oleh: Anisa Tri Kusuma |

Pak Ndul mulai belajar mengenal Youtube sejak Oktober 2017, secara otodidak. Beratus-ratus jam ia habiskan untuk menonton tutorial atau tips dan trik menjadi YouTuber.

Balicitizen.com, Jakarta — Keinginan Ahmad Sukoco, seorang petani asal Desa Muneng, Kecamatan Pilangkenceng, Kabupaten Madiun mendapatkan tambahan penghasilan di luar profesinya akhirnya terwujud. Bukan dengan cangkul, pupuk dan keahlian ilmu taninya, justru keahliannya dalam mengolah kata-kata yang sederhana menjadi lelucon dan humorlah yang menjadikan Ahmad Sukoco atau yang sekarang tenar dipanggil Pak Ndul menikmati hasilnya. Bersama lima anggota tim kreatifnya, dua bulan berkarya membuat konten video lucu, Pak Ndul yang menggunakan akun Wagu (Waton Guyon) berhasil meraih 7 ribu subscriber dan 58 ribu kali penayangan di YouTube. Tim yang dimaksud Pak Ndul mempunyai nama Wagu, kependekan dari Waton Guyon. Grup ini beranggotakan enam orang. Kegiatannya bermarkas di rumahnya.

“Di rumah saya ada enam anggota tim saya kita namai group Wagu alias Wagon Guyon. Diambil dari bahasa Jawa,” kata pak Ndul. Pak Ndul yang mengaku sehari-hari bekerja sebagai petani ini mengatakan tidak mudah untuk sukses menjadi YouTuber. Sambil sesekali mengeluarkan candaan, Pak Ndul mengaku sudah mulai belajar Youtube sejak Oktober 2017, secara otodidak. Beratus-ratus jam ia habiskan untuk menonton tutorial atau tips dan trik menjadi YouTuber.

“Saya menghabiskan waktu itu ratusan jam untuk belajar, apa sih itu YouTube bagaimana sih YouTube itu. Biasanya malam hari saya habiskan waktu untuk mencari-cari dan melihat tutorial dan referensi di YouTube. Awalnya grup Wagu beranggotakan enam orang membuat konten berisi guyon berbahasa Jawa. Empat orang yang menjadi talent, sementara saya dan adik saya yang berada di belakang kamera,” lanjut Pak Ndul. Namun video awal yang dibuat Pak Ndul bisa dibilang gagal karena tak banyak yang melihat. Sedari awal video Pak Ndul memang mempunyai konten humor, namun bahasa yang digunakannya masih bahasa Jawa yang ditafsir dalam versi bahasa Indonesia. Namun pesan atau makna guyonan justru kurang mengena bagi orang yang menonton.

“Jadi kurang hidup, lucunya itu, kurang asyik. Jadi agak garing, karena kita basicnya bahasa Jawa, tapi ini pakai bahasa Indonesia. Ketika kita bikin pakai bahasa Indonesia, tidak ada soulnya,” ungkap Pak Ndul.

Bagi Pak Ndul, penggunaan karakter Pak Ndul agar menjadi sesuatu yang unik, beda, baru dan lucu. Kata-kata Pak Ndul itu muncul setelah ia mengenalkan satu-satu nama-nama panggilan personel tim kreatifnya. “Kalau saya Pak Gundul karena kami menutupi nama aslinya,” kata Pak Ndul. Untuk personel tim Wagu berasal dari daerah sekitar di Desa Muneng, Kecamatan Pilangkenceng, Kabupaten Madiun. Tim itu terbentuk lantaran sesama pecinta YouTube yang bisa nongkrong di warungnya yang menyediakan wifi gratis.

Sebelum membuat video, ia bersama adiknya berdiskusi tentang konsep dan idenya. Setelah sepakat, dilakukan pengambilan video lalu diedit hingga diunggah di YouTube dengan handycam. Ia memilih topik orang desa karena mudah diterima, apalagi ia hidup di pedesaan. Untuk membuat video dan editing, tidak ada keahlian khusus yang dimilikinya. Pasalnya ia bersama adiknya tidak memiliki keahlian videografi, seniman dan panggung. “Kami dari teknik. Maka kami belajar secara otodidak,” ujar Pak Ndul. Berkecimpung sebagai seorang YouTuber, Pak Ndul menceritakan suka duka dalam membuat konten YouTube. Ia mengaku, hal itu tidak semudah dibayangkan. Dalam pembuatannya membutuhkan proses yang tidak sebentar. Selain itu, ia pun harus sabar ketika ada orang yang menyebut tidak lucu hingga menyebutnya orang gila.

“Kalau diomongin orang edan (gila) malah senang saya. Saya yang tidak suka itu dikaitkan dengan politik,” jelas Pak Ndul. Ia mencontohkan salah satu videonya tentang penghemat BBM dipotong lalu disandingkan dengan salah satu capres. Ditanya munculnya kata-kata ahlinya ahli, Pak Ndul mengungkapkan kata-kata muncul ketika ia membuat video teknik matun suket. Kata-kata itu munculnya spontan. Kemudian dikembangkan kata-kata intinya inti, kemudian ditambahkan dalam bahasa Inggris core of the core.

“Untuk kata-kata saya buat keyword-nya saja. Lalu mengalir,” kata Pak Ndul. Agar dikenal banyak orang, awalnya konten-konten di-share di Facebook. Hanya saja, kontenya kala itu kurang banyak dikenal.

“Ketika memakai karakter pak Ndul lebih bisa diterima, akhirnya banyak yang request, minta video lama yang berbahasa Jawa diterjemahkan,” imbuh Pak Ndul.

Untuk menambahkan subtitle pada video berbahasa Jawa, Pak Ndul mengaku cukup banyak memakan waktu. Dari video berdurasi sekitar 10 menit, dibutuhkan waktu sekitar tujuh jam untuk menambahkan subtitle. “Karena karakter Pak Ndul sudah banyak diterima, video yang masih berbahasa Jawa kita unlist, kita buatkan channel lagi, namanya WaGu Ndeso. Dan itu masih berjalan, kita berenam. Tetapi kalau yang WaGu pak Ndul, yang lebih fokus saya sama adik saya. Adik saya yang merekam, saya yang ngomong,” katanya.

Seiring berjalannya waktu, Pak Ndul terus belajar bagaimana suatu humor bisa diterima masyarakat. Dari situ, Pak Ndul mencoba menerjemahkan humor ke dalam bahasa Inggris, ia mengaku tak mahir berbahasa Inggris, tetapi dia bisa. Keterampilan berbahasa Inggris diaku Pak Ndul didapatnya secara otodidak dan pengalaman menuntut ilmu di luar negeri. Pak Ndul sendiri tak mau mengaku di luar negeri mana dia menuntut ilmu. Karena tak mahir itulah, Pak Ndul mengaku berceloteh dan menjawab segala sesuatunya secara spontan atau yang selalu dia bilang ‘automatically’. Bahasa Inggrisnya bisa dibilang ngawur, bercampur dengan bahasa Indonesia dan Jawa. Bercampur juga dengan istilah lintas profesi. Tidak disangka, videonya mendapat respon positif, videonya dari YouTube banyak dibagikan ke media sosial dan aplikasi percakapan. Pak Ndul pun mulai menuai ketenaran sebagai Profesor core of the core.

(*/Dry)

Leave A Reply

Your email address will not be published.