The news is by your side.

KPK Periksa 7 Saksi Suap Pengadaan Pesawat Garuda

0

Oleh: Rudi Hasan  |

Balicitizen.com, Jakarta – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengagendakan pemanggilan terhadap tujuh orang mantan pejabat dan pegawai Garuda Indonesia. Mereka dimintai keterangan terkait kasus suap pengadaan pesawat.

“Dihadirkan sebagai saksi untuk tersangka ESA (Emirsyah Satar),” ujar juru bicara KPK Febri Diansyah saat dikonfirmasi, Senin (9/9).

Mereka yang dipanggil berasal dari beragam lini BUMN itu. Antara lain mantan Vice President Aircraft Maintenance Management PT Garuda Indonesia, Batara Silaban; Vice President Treasury Management PT Garuda Indonesia 2005-2012, Albert Burhan, dan; Vice President Corporate Planning Garuda Indonesia, Setijo Awibowo.

Sebanyak empat pegawai Garuda Indonesia yang masih aktif bekerja juga ikut dipanggil. Mereka adalah Widianto Wiriatmoko, Rudyat Kuntarjo, Victor Agung Prabowo dan Rajendra Kartawiria. KPK menahan eks Direktur Utama Garuda Emirsyah Satar. Penahanan telah dilakukan terhadap Emir setelah dia ditetapkan sebagai tersangka kasus tindak pidana pencucian uang (TPPU), bulan lalu.

“Dilakukan penahanan 20 hari pertama terhadap tersangka ESA (Emirsyah Satar) di rutan C1 KPK dan tersangka SS (Soetikno Soedarjo) di Rutan Guntur,” kata Kepala Bagian Pemberitaan dan Publikasi KPK, Yuyuk Andriati Iskak, di Jakarta, Rabu (7/8).

 

KPK Panggil 2 Anggota Fraksi PDIP terkait Suap

 

Dia menyebut kasus TPPU yang disangkakan ke Emir sebagai pengembangan kasus dugaan pengadaan mesin pesawat Garuda. Wakil Ketua KPK Laode M Syarief menuturkan, pihaknya telah menetapkan dua tersangka selain Emir. Mereka adalah Hadinoto Soedigno dan Soetikno Soedarjo.

Soetikno diduga memberi Rp5,79 miliar kepada Emirsyah, untuk membayar rumah beralamat di Pondok Indah. Selain itu, Emir juga diduga menerima suap 680 ribu dolar Singapura dan 1,02 juta euro serta1,2 juta dolar AS untuk melunasi apartemen di Singapura.

“Untuk Hadinoto Soedigno, Soetikno Soedarjo diduga memberi 2,3 juta dolar Singapura dan 477 ribu euro yang dikirim ke rekening Hadinoto Soedigno di Singapura,” kata Laode.

Emirsyah dan Soetikno Soedarjo disangkakan Pasal 3 atau Pasal 4 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

Sementara, Hadinoto Soedigno diduga melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 jo Pasal 64 ayat 1 KUHP. Ari/INI/Balicitizen

Berita Terkait

Leave A Reply

Your email address will not be published.