The news is by your side.

Lone Wolf ala Rofik Asharudin

0

Oleh: Herry M. Joesoef |

Bom bunuh diri yang dilakukan oleh Rofik Asharudin di Kartasura mengikuti pola “lone wolf”, serigala sendirian. Gerakan mereka tidak terdeteksi oleh aparat.

Balicitizen.com, Jakarta – Bom bunuh diri meledak di depan Pos Polisi yang berada di Tugu Kartasura, Surakarta, Jawa Tengah, Senin (3/6) malam. Bom bunuh diri tunggal itu melukai pelakunya, Rofik Asharudin, 22 tahun, warga Kampung Kranggan Kulon, desa Wiragunan, Kartasura, Kabupaten Sukoharjo.

Rofik ternyata bertindak atas nama diri sendiri. Meski beridiologi ISIS yang bergerak di wilayah Irak dan Suriah, Rofik ditengarai tidak ada kaitannya dengan kelompok-kelompok teroris yang ada di tanah air. Jamaah Ansharut Daulah (JAD) dan GARIS, misalnya, adalah kelompok-kelompo yang punya link dengan ISIS. Anggota JAD maupun GARIS selama ini jadi buruan Densus 88 Mabes Polri.

Sepanjang Januari sampai Mei 2019 misalnya, Densus 88 telah menangkap 81 terduga teroris dari dua kelompok tersebut.

Persoalan terorisme di Indonesia saat ini tidak sama dengan aksi-aksi awal tahun 2000-an, dimana ada organisasi yang bernama Jamaah Islamiyah (JI) yang ber-amaliah sesuai dengan wilayah dan garis komando. Mereka punya ahli bom seperti Dr. Azahari bin Husin, dan motivator (provokator?) seperti Noordin M. Top. Keduanya warganegara Malaysia.

Azahari bin Husin wafat setelah dikepung dan ditembak oleh pasukan Densus 88 di Batu, Malang, Jawa Timur pada 9 November 2005. Sedangkan Noordin juga wafat 17 September 2009, dalam sebuah penyergapan di Kampung Kepuh Sari, Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres, Solo, Jawa Tengah.

Baik Azahari maupun Noordin adalah otak dari serangakaian bom bunuh diri yang dimulai dengan Bom Bali I pada 12 Oktober 2002, Bom JW Marriott, Jakarta pada 2003, Bom Kedutaan Besar Australia 2004, Bom Bali II pada 1 Oktober 2005, dan Bom JW Marriott serta Ritz-Carlton, Jakarta, 17 Juli 2009.

Pasca kematian Azahari dan Noordin, pelaku bom bunuh diri memang masih berlanjut,tetapi sudah mulai terjadi pergeseran. Tidak lagi yang punya daya ledak dahsyat, juga tidak hanya melibatkan kaum laki-laki saja.

Jika dulu, di jaman Jamaah Islamiyah (JI), aksi-aksi teror dilakukan oleh kaum lelaki, dan tabu dilakukan oleh perempuan. Tetapi sekarang, aksi-aksi teror sudah melibatkan satu keluarga (istri dan anak-anak). Hal ini terjadi di Surabaya dan Sidoarjo, Jawa Timur, pada 13-14 Mei 2018 lalu. Tiga gereja di Surabaya, satu rumah Susun Wonocolo, Taman, Sidoarjo, dan Mapolrestabes Surabaya, jadi sasaran. Para pelaku bom bunuh diri melibatkan keluarga masing-masing (ayah, ibu, dan anak-anak).

Kasus kedua adalah bom bunuh diri yang terjadi di Sibolga, Sumut, Selasa (12/3) dan Rabu (13/3) dinihari lalu. Awalnya, Abu Hamzah ditangkap Densus 88 di luar rumah pada14.20 WIB. Lalu, ketika tim Densus akan merangsek ke dalam rumah, ledakan bom terjadi pada Pk 14.50 WIB. Upaya negosiasi sudah dilakukan, tapi si ibu rumah tangga ini tak mau menyerah. Pada Rabu dinihari Pk 01.30 WIB, bom lebih besar meledak dan menewaskan istri dan dua anak Abu Hamzah. Polisi mengidentifikasi bahwa Abu Hamzah adalah anggota kelompok Jamaah Ansharu Daulah (JAD) yang berafiliasi ke jaringan ISIS.

Adanya pergeseran peran, dari urusan laki-laki ke urusan keluarga, terjadi setelah munculnya ISIS. Di era Jamaah Islamiyah, yang punya afiliasi dengan Al-Qaedah, bom-bom bunuh diri di tanah air hanya dilakukan oleh kaum lelaki. Tapi,setelah Abu Bakar Al-Bagdadi menjadi Khalifah, Juni 2014, dan Islamic State in Iraq and Suriah (ISIS) menjadi Islamic State/Daulah Islamiyah, bom-bom bunuh diri mulai dilakukan oleh para perempuan yang melibatkan anak-anak. Al-Bagdadi sendiri dulunya adalah anggota Al-Qaedah, tetapi sejak mendirikan ISIS, ia keluar dari Al-Qaedah. Cara-cara yang ditempuh pun tidak sama.

Jika Al-Qaedah melakukan aksi-aksi teror dalam rangka memberi pesan kepada sasaran, ISIS meneror untuk mendirikan sebuah kekhalifahan. Lalu, konsep satu keluarga masuk surga bersama ini menjadi rujukan. Bagi mereka, bom bunuh diri adalah sarana menuju surga. Karena itu, bisa dipahami mengapa istri Hamzah memilih meledakkan diri bersama dua anaknya ketimbang menyerahkan diri kepada Densus 88 yang menurutnya, simbol dari taghut.

Pergeseran terus terjadi. Dari JI ke ISIS, dari ISIS ke “lone wolf” (serigala sendirian), pemain solo. Para “lone wolf” tidak terlalu ketat menginduk ke kelompok tertentu. Karena para “lone wolf” ini punya kemandirian dalam ber-“fatwa”. Ijtihad pribadi ia laksanakan sendiri, tanpa harus minta restu pada pimpinan kelompok.

Inilah yang membuat gerakan mereka susah dilacak. Densus 88 memang telah menangkap 81 orang sepanjang Januari sampai Mei 2019. Mereka yang ditangkap itu terindikasi pada jejaring JAD, bukan “lone wolf”.

Rofik Asharudin adalah “lone wolf”, mandiri, hanya punya kesamaan idiologi dengan kelompok ISIS. Selebihnya adalah jalan sendiri, dengan biaya sendiri pula.

Akan lebih berbahaya jika kelompok “lone wolf” punya keyakinan bahwa apa yang mereka lakukan itu adlah bentuk riil dari jihad.

Sedangkan jihad yang membawanya mati syahid akan mengantarkan ke surga. Ada tujuh karunia Allah yang diperoleh mereka yang syahid. Dua di antaranya adalah akan menikahi 72 bidadari dan memberi syafaat pada 70 anggota keluarganya. Begitu hadits shahih yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal, At-Turmudzi, dan Ibnu Majah).

Karena itu, peka terhadap perubahan perilaku keluarga dan lingkungan masyarakat diperlukan. Hal ini untuk mengendus tanda-tanda awal –menyendiri, pandangan keagamaan yang ekstrim dan tidak mau mendengar nasihat –para “lone wolf”. (HMJ)

Berita Terkait

Leave A Reply

Your email address will not be published.