The news is by your side.

Oligarki Bisnis Batu Bara Diharapkan Tak Masuk Kabinet Jokowi

0

Oleh: Ahmad ZR  |   

Balicitizen.com, Jakarta – Oligarki bisnis batu bara diharapkan tidak masuk dalam kabinet pemerintahan Jokowi-Ma’ruf Amin karena dinilai akan mengancam masa depan bangsa. Dugaan ini tercium setelah beberapa nama terkait dengan bisnis batu bara yang masuk dalam bursa kabinet Jokowi.

“Pemilu sudah selesai, namun banyak persoalan yang belum selesai hingga kini, yaitu persoalan sosial di mana ada dua kubu yang berpolarisasi, termasuk dalam konteks politik,” kata Juru Bicara #BersihkanIndonesia dari YLBHI, Arip Yogiawan dalam jumpa pers di bilangan Cikini, Jakarta, Sabtu (19/10).

“Kami melihat dalam konteks politik Indonesia diwarnai oleh oligarki batu bara. Artinya, cita-cita untuk maju ke energi terbarukan semakin jauh,” katanya.

Ancaman tersebut terungkap dalam laporan #BersihkanKabinet yang diluncurkan hari ini. Sejumlah lembaga yang tergabung dalam gerakan #BersihkanIndonesia menyelidiki profil nama-nama calon menteri kabinet Jokowi-Ma’ruf.

“Nah, penting jika dikaitkan dengan kabinet. Apakah ini berdampak pada penyusunan kabinet, karena penyusunan kabinet merupakan suatu tradisi bagi-bagi jabatan,” ujarnya.

Para aktivis #BersihkanIndonesia khawatir jika kabinet terpilih nantinya dikendalikan oleh oligarki bisnis batu bara dalam agenda kekuasaan.

Bisnis mereka diyakini berkontribusi pada kerusakan alam yang telah mengakibatkan berbagai dampak negati. Seperti banjir besar yang mematikan di Bengkulu dan lubang-lubang maut bekas tambang di Kalimantan.

“Fenomenal lobi-lobi politik belakangan ini telah mengonfirmasi begitu kuatnya kelompok oligarki batu bara dan bagaimana Jokowi menyediakan karpet merah bagi kepentingan mereka,” kata dia.

Arip menilai upaya ini adalah bagi-bagi kekuasaan yang tidak saja berarti buruk bagi keseimbangan politik, tapi juga menjadi ancaman berlanjutnya kerusakan lingkungan oleh industri batu bara.

“Bagi rakyat Indonesia kita di ujung tanduk. Pertama, energi terbarukan sudah sangat kecil. Dan kedua, muncul oligarki lain seperti oligarki media, sawit dan lain sebagainya,” ujarnya.

Hubungan erat Jokowi dengan pebisnis batu bara membuatnya meninggalkan satu keputusan penting ketika menyusun kabinet kerja pada periode pertama sebagai presiden tahun 2014 lalu. Saat itu, Jokowi mengandalkan KPK untuk mengetahui integritas calon-calon menteri.

“Elite politik yang berbisnis batu bara sangat diuntungkan dengan pelemahan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi),” ujarnya.

Ia menilai, di periode kedua pemerintahannya, Jokowi tidak intens berkomunikasi dengan KPK terkait calon pembantunya lima tahun ke depan. “Kita tidak tahu siapa yang mem-feeding presiden dalam penyusunan kabinet, kita khawatir kedaruratan ini menjadi kritis dan Indonesia benar-benar menjadi krisis,” katanya. Ari/INI/Balicitizen

Berita Terkait

Leave A Reply

Your email address will not be published.