The news is by your side.

Pembahasan Upah Pekerja Magang antara Pengusaha dan Serikat Pekerja Berakhir Buntu

0

Oleh: Ari  |

Balicitizen.com, Denpasar – Kalangan DPRD, pengusaha serta serikat pekerja masih membahas soal Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) Provinsi Bali tentang Penyelenggaraan Ketenagakerjaan.

Dalam pembahasan ini disepakati jika pekerja magang tidak akan mendapatkan upah, tapi mereka mendapatkan uang saku. Hanya saja besarannya belum ditentukan, pengusaha dan pekerja belum ada titik temu.

Ketua Pansus Ranperda Penyelenggaraan Ketenagakerjaan I Nyoman Parta menjelaskan, uang saku dibebankan kepada pengusaha. Namun, karena pekerja magang bukan pekerja tetap maka tidak mendapatkan upah, tapi diberikan uang saku.

Kendati demikian, dalam rapat tersebut belum ada titik temu antara pengusaha dengan pekerja terkait besarnya uang saku yang diterima pekerja magang.

Para pekerja, jelas Parta, menuntut uang saku pekerja magang paling kecil sebesar upah minimum Kabupaten/Kota (UMK). Namun, pihak pengusaha berpandangan besaran uang saku yang diminta pekerja itu bisa membebani perusahaan, yang pada akhirnya perusahaan menolak mempekerjakan pekerja magang dengan upah sebesar minimal UMK tersebut. “Dari pihak pekerja menuntut minimal uang saku adalah sebesar sekurang-kurangnya upah minimum yang berlaku upah minimum masing-masing Kabupaten/kota. Sementara pengusaha menganggap dengan besaran ruang saku nanti dikwatirkan tidak banyak anak yang bisa magang, karena perusahaan tidak mau dibebani dengan uang saku,” jelas Parta.

Pembahasan besaran uang saku yang menghabiskan waktu 1,5 jam itu berakhir deadlock. Pihaknya akan mengagendakan lagi untuk membahasanya. Ari/Balicitizen

Berita Terkait

Leave A Reply

Your email address will not be published.