The news is by your side.

Pengamat: Demo Mahasiswa Lampu Kuning Buat Jokowi

0

Oleh: Muhajir  |    

Balicitizen.com, Jakarta – Pemerhati Politik, M. Rizal Fadillah, menilai demo mahasiswa yang marak terjadi di berbagai daerah di Indonesia menunjukkan ada kebijakan pemerintah yang keliru dan kronis. Semua bersumber pada ketidakpuasan pada kepemimpinan Presiden Jokowi.

Jokowi dinilai tak peka dengan perasaan rakyat, mengedepankan kepentingan sepihak baik pemerintah, pengusaha, partai, atau elit tertentu. Sekali mahasiswa bergerak dengan isu kebijakan keliru yang sama, maka rangkaian terus bersambung dan keseriusan pun semakin terbukti.

“Mahasiswa ternyata tidak bermain-main. Jokowi pun melakukan rapat darurat,” kata Rizal melalui keterangan tertulis, Selasa (24/9).

Fokus aksi mahasiswa adalah revisi UU KPK, RUU KUHP, RUU P-KS, , RUU Pertanahan, dan lainnya. Tapi itu bukan pengkritisan hukum semata melainkan aksi politik. Tepatnya moral politik. Ini karena pemerintah telah menjadikan hukum sebagai kepanjangan tangan atau alat politik.

“Rezim Jokowi telah memperalat hukum dan penegak hukum untuk melestarikan kekuasaan. Rakyat dan tentunya mahasiswa merasakan hal itu. Perekayasaan biasanya berhasil untuk satu atau dua waktu tapi tak pernah bisa sukses selamanya. Momen aksi masif pun akan tiba pada waktunya,” kata dia.

Sebenarnya, Jokowi khawatir aksi mahasiswa semakin meluas dan tentu tak bisa dikendalikan. Seperti yang tercatat dalam memori sejarah aksi berkesinambungan bisa menjatuhkan kekuasaan.

“Entah pilihan sikap apa yang akan diambil menghentikan proses pembahasan RUU, meminta bantuan pimpinan kampus, atau konsolidasi dan tindakan tegas aparat keamanan. Semua opsi berkonsekuensi,” ujar dia.

Perjalanan kekuasaan menjelang pelantikan  20 Oktober Jokowi tengah menginjak kerikil atau tersandung batu dengan langkah yang terhuyung-huyung. Lampu hijau berubah menjadi kuning. Berdebar karena sebentar lagi bisa menjadi lampu merah. Tagar turunkan Jokowi pun semakin menjadi topik dengan trend menaik.

“Jokowi tidak punya reputasi berkemampuan tinggi mengatasi masalah. Ia selalu menjadi figur yang ‘safety first’. Mengeles. Hampir tak jelas pola pengambilan keputusan dalam mencari solusi.  Kadang adagiumnya adalah menyelesaikan masalah dengan masalah. Akibatnya masalah menjadi bertumpuk. Akhir dari tumpukan adalah pembusukan,” ujar Rizal.

Menurut dia, sikap politik peminggiran ulama dan umat Islam, pelemahan TNI, pengurungan mahasiswa, serta penunggangan aparat penegak hukum menjadi bagian dari pembusukan kekuasaan. Ketika elemen strategis  bangsa merasa semakin dikecewakan maka yang terjadi adalah perlawanan.

“Mahasiswa kini menunjukkan kebersamaan perasaan dengan rakyat. Berani unjuk diri, unjuk aksi, dan unjuk jiwa berani. Jika gaung mosi tidak percaya membesar maka lampu kuning Jokowi bisa cepat berubah jadi lampu merah,” ujarnya. Ari/INI/Balicitizen

 

Berita Terkait

Leave A Reply

Your email address will not be published.