The news is by your side.

Pengamat: Pendaftaran PPDB Online Harus Diubah

0

Oleh: Rosid   |

Balicitizen.com, Denpasar – Mekanisme Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) untuk SMP Negeri di Denpasar meninggalkan beragam masalah. Orang tua murid harus berdesak-desakan untuk mengambil token registrasi dan verifikasi data. Bahkan ada yang rela berangkat lebih petang agar sampai lebih awal.

Token tersebut kemudian digunakan untuk mendaftar secara online. Jika nantinya pendaftar membludak akan digunakan sistem siapa yang paling cepat mendaftar secara online yang diterima.

Putu Rumawan Salain, Pengamat Pendidikan di Bali mengatakan mekanisme PPDB atau sistemnya harus dirubah. Pasalnya, pendaftaran dengan menggunakan token dan verivikasi data ini menyimpan masalah. Harusnya dibuatkan sistem yang membuat orang tua tak perlu berebut untuk mendapatkannya.

“Ini di seluruh belahan Indonesia terjadi permasalahan. Kalau yang orang tua misalnya di Jawa sampai harus menginap di hotel menunggu sepagi mungkin untuk dapat token. Di Denpasar sampai ortu meninggalkan kerja saat mendaftarkan anaknya,” kata dia.

“Intinya di situ pendaftaran dengan token menjadi masalah. Ada ga teknis lain sehingga anak-anak atau ortu tak perlu berebut mendapatkan token. Karena ada informasi cepat-cepatan dapat itu yang menyebabkan orang takut tak kebagian jumlah bangku yang tersedia di wilayah yang sama,” lanjutnya.

Oleh karena itu sistem token ini yang perlu ditelaah. Ia membandingkan dengan sekitar empat tahun lalu ketika PPDB sistem online real time. Yang mana orang-orang tak perlu ramai-ramai datang dan bisa dilakukan dari rumah.

“Bayangkan dari 13 ribu tapi yang diterima 3 ribu, ini kan membeludak. Untung saja tak terjadi apa-apa atau ribut-ribut,” jelasnya.

Sebagaimna diketahui, pada sistem penerimaan PPDB tahun ini mengharuskan calon peserta agar cepat mendaftar. Sebab, jika kuota penuh atau overload maka calon siswa yang diterima adalah mereka yang terlebih dahulu mendaftar. Terkait hal tersebut, menurutnya sebaiknya menggunakan nilai ujian sebagai penyeleksi bukan siapa yang paling cepat mendaftar.

“Kedepan perlu pemikiran atas dasar NEM menjadi pertimbangan. NEM digunakan setelah ada jumlah siswa yang sama (mendaftar),” kata dia. Ari/Balicitizen

Berita Terkait

Leave A Reply

Your email address will not be published.