The news is by your side.

Penyelundupan Harley Hanya Puncak Gunung Es Kasus Garuda

0

Oleh: Rudi Hasan  |

Balicitizen.com, Jakarta – Peneliti Alpha Research Database, Ferdy Hasiman, melihat penyelundupan Harley dan sepeda Brompton oleh eks Dirut Garuda Indonesia, Ari Askhara, sebagai puncak gunung es. Menurutnya, ada indikasi kasus lain yang menjerat direksi perusahaan plat merah itu.

“Jika diinvestigasi serius pasti banyak kasus sejenis yang melibatkan petinggi Garuda. Direktur Utama sebelumnya, Emirsyah Satar juga kan memiliki kasus sejenis,” kata Ferdy di Jakarta, Sabtu, (7/12).

Ferdy mengingatkan bagaimana Emirsyah diduga menerima suap terkait pengadaan pesawat Airbus SAS dan mesin pesawat Rolls-Royce untuk Garuda Indonesia. Dia melihat, praktek-praktek seperti itu sudah sering terjadi di internal Garuda. “Karena sebelumnya jarang dilakukan audit dan tidak transparan,” kata dia.

Ferdy mengatakan bahwa terungkapnya kasus penyelundupan pesawat harusnya membuat semua orang curiga. Jangan-jangan ada barang lain yang dibuat mainan oleh petinggi perusahaan plat merah itu.

Ferdy meminta Menteri BUMN Erick Thohir melakukan audit bisnis Garuda. Praktek-praktek bisnis yang dimaksud yakni charter pesawat dan sistem sewa atau rental (leasing) pesawat ke leasor yang dilakukan Garuda selama ini.

“Kan Garuda ini banyak rental pesawat. Si tukang rentalnya untung, Garudanya tiarap,” kata dia.

Data milik Ferdy membeberkan, pada tahun 2018, dari total 202 unit pesawat, yang dimiliki Garuda hanya 22 unit pesawat dan sisanya sebesar 180 unit pesawat adalah rental.

Pesawat-pesawat itu dipinjamkan ke perusahaan-perusahaan leasing (pembiayan) pesawat. Biaya charter pesawat Garuda yang mencapai Rp 15.2 triliun atau 33,57 % dari total beban operasional penerbangan pun perlu dijelaskan ke publik.

“Sementara untuk biaya sewa pesawat tak kalah besar. Tahun 2018, Garuda membayar sewa pesawat dari Export Development Canada sebesar Rp 733 miliar,” kata Ferdy.

Selain itu, Garuda juga membayar sewa pesawat dari Mitsuis Leasing Capital sebesar Rp 3,3 miliar untuk 46 unit pesawat dan IBJ Verena Finance Rp 7 miliar untuk 50 unit pesawat. Masih banyak lagi perusahaan-perusahaan leasing lain yang harus dibayarkan Garuda setiap tahun. Total biaya leasing pesawat tahun 2018 sebesar Rp 1,04 triliun.

“Sebagai risiko tak memiliki Direktur yang visioner dan memiliki perhatian khusus terhadap perusahaan, Garuda terus ditimpa kerugian,” beber dia.

Sejak tahun 2014, Garuda mengalami kerugian besar. Tahun 2014 mengalami kerugian sebesar Rp 5,1 triliun, tahun 2017 merugi sebesar Rp 2,2 triliun dan tahun 2018 sebesar Rp 2,78 triliun.

Sementara beban operasional penerbangan sangat besar, tahun 2017 sebesar Rp 34,6 triliun dan 2018 meningkat sebesar Rp 38 triliun. Kerugian ini memang dipompa oleh biaya operasional penerbangan Garuda termasuk pembelian avtur, pembelian perangkat lunak dan keras pesat pesawat. Tahun 2018, biaya Bahan Bakar, termasuk avtur (43,57%) sebesar Rp 19 triliun dan biaya sewa. Ari/INI/Balicitizen

Berita Terkait

Leave A Reply

Your email address will not be published.