The news is by your side.

Pilpres 2019, Kemana Suara Nahdliyin Berlabuh?

0

Oleh: Herry M. Joesoef |

Nahdliyin nama jamaahnya. Pengurus Besar Nahdlatul Uama (PBNU) nama ormasnya. Meskipun KH Ma’ruf Amin mantan Rais ‘Aam Syuriah Nahdlatul Uama, bukan berarti suara mayoritas nahdliyin menjatuhkan pilihannya pada pasangan calon presiden Jokowi-Ma’ruf Amin. Mengapa?

Balicitizen.com, JakartaDi PBNU, Ma’ruf Amin adalah mantan Rais ‘Aam Syuriah. Ini jabatan tertinggi di dalam struktur PBNU, karena rais ‘aam yang mengontrol jalannya organisasi, termasuk menyemprit jika ketua tanfidiyah dan jajarannya melakukan kesalahan. Tapi, ketika Ma’ruf Amin dicalonkan sebagai wakil presiden mendampingi Jokowi, bukan berarti warga nahdliyin otomatis memilih Jokowi-Ma’ruf.

Mengapa? Ada empat hal yang menjadi alasannya:

Pertama, nahdliyin tidak sama dengan PBNU. Tidak ada angka pasti jumlah anggota nahdliyin di Indonesia. Yang ada hanyalah taksiran, antara 60 juta sampai 80 juta. Sedangkan NU sendiri terdiri dari NU Struktural (PBNU dan jajaran ke bawah), NU Garis Lurus (ini tokoh-tokohnya berseberangan dengan PBNU), dan NU kultural. Meski PBNU menyatakan netral dalam Pilpres 2019, tidak bisa dipungkiri jika tokoh-tokohnya cenderung mendukung Jokowi-Ma’ruf. Hal ini tidak lepas dari peran Ma’ruf sebelumnya sebagai rais ‘aam.

Adapun NU Garis Lurus (NUGL), ini gerakan moral yang dipelopori oleh KH Luthfi Bashori dan KH Idrus Romli , punya pasar tersendiri. Terutama di kalangan nahdliyin yang selalu mengkritisi kebijakan dan perilaku Ketua Tanfidiyah PBNU, Said Aqil Siroj. Ide-ide NUGL sangat laku di kalangan terdidik. Tidak ada struktur yang ketat, tapi ide-idenya menembus batas, baik di kalangan struktural apalagi di kalangan kultural. NUGL jelas telah mendukung Prabowo-Sandi.

Kedua, NU Kultural. Nahdliyin adalah jamaah NU kultural yang tidak terikat dengan PBNU secara organisatoris. Mereka ini ada di pondok-pondok pesantren, lembaga-lembaga pendidikan non pondok yang dikelola oleh warga atau yayasan, majelis-majelis taklim, komunitas-komunitas dzikir, dan sebagainya. NU kultural ini jumlahnya yang paling besar. Sembilan puluh persen warga NU itu NU kultural. NU kultural ini tidak punya garis komando sampai ke PBNU. Mereka taatnya hanya pada kiainya masing-masing.

Ketiga, Ma’ruf Amin itu ukan trah Jawa Timur. Hal ini sebagaimana diakui sendiri oleh Kiai Ma’ruf ketika pada 25 Februari lalu berbicara di Pondok Pesantren Babak Ciwaringin, Cirebon. “Saya ini dari Maulana Hasanuddin langsung ke Maulana Sari, berarti saya ini keturunan Cirebon, karena itu saya menganggap penunjukan saya sebagai calon wakil presiden berarti penghormatan pada warga Cirebon dan warga Jawa Barat,” kata Kiai Ma’ruf waktu itu. Sebagaimana kita ketahui, Maulana Hasanuddin adalah putra Sunan Gunungjati alias Syarif Hidayatullah, raja Cirebon. (ini salah satu satu pengakuan dari Kiai Ma’ruf Amin)

Lepas dari pengakuan Kiai Ma’ruf tersebut, yang jelas, Kiai Ma’ruf bukanlah Jawa Timur yang merupakan “Qurais”-nya NU. Sebagaimana diketahui, NU yang didirikan pada 31 Januari 1926 itu, dari 13 pendiri, 10 orang berasal dari Jawa Timur, 2 orang dari Jawa Tengah, dan 1 dari Cirebon (Jawa Barat). Karena itu, secara sosiologis, orang NU yang berasal dari Jawa Timur adalah yang paling mendapat tempat di hati mereka yang berasal dari Jawa Timur.

Keempat, anak-cucu pendiri NU. Ini yang juga menarik. Ada 22 keturunan pendiri NU yang menurunkan jangkarnya dan mendukung Prabowo-Sandi pada Pilpres 2019. Mereka, antara lain, Irfan Yusuf Hasyim, Hasyim Karim, Fahmi Amrullah, dan Baidhowi. Keempatnya adalah cucu Hasyim Asy’ari, pendiri NU.

Sebagaimana kita ketahui, Mbah Hasyim Asy’ari, satu dari tiga belas pendiri NU yang paling kharismatik. Peristiwa 10 November 1945 yang heroik di Surabaya itu tidak bisa dilepaskan dengan peran resolusi jihad yang dikeluarkan oleh Mbah Hasyim. Dengan berbekal resolusi jihad itu Bung Tomo menggerakkan arek-arek Soeroboyo dan mengobarkan semangat jihad: Merdeka atau Mati!

Atas dasar empat alasan tersebut, suara nahdliyin tidak bisa hanya diarahkan untuk pasangan Jokowi-Ma’ruf. Yang terjadi, bisa jadi, sebaliknya. Suara nahdliyin (NUGL dan NU kultural), yang jumlahnya jauh lebih banyak, akan menjatuhkan pilihannya pada pasangan Prabowo-Sandi. Jika besuk 17 April Prabowo-Sandi yang memenangi pilpres, maka itu, salah satu indikatornya, adalah kemenangan NUGL dan NU kultural. Wallahu A’lam (HMJ)

Berita Terkait

Leave A Reply

Your email address will not be published.