The news is by your side.

Saksi di MK Sebut Gubernur Jateng Ajak Aparat Tak Netral

0

Oleh: Mujahir  |

Balicitizen.com, Jakarta – Sidang sengketa Pemilu 2019 yang berlangsung di gedung Mahkamah Konstitusi (MK) menghadirkan seorang saksi caleg dari partai Partai Bulan Bintang (PBB) pimpinan Yusril Ihza Mahend, Haerul Anas Suaidi.

Saksi ini membeberkan pesan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, ke aparat saat menjadi saksi dalam sidang gugatan hasil Pilpres di Mahkamah Konstitusi (MK). Anas dihadirkan sebagai saksi paslon 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno yang secara tidak langsung ‘melawan’ Yusril.

Anas menyebut Ganjar mengajak aparat sebaiknya tak netral dalam pemilihan umum (Pemilu) 2019 jika ingin memenangkan pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin. Ajakan Ganjar ini disampaikan saat memberikan pelatihan saksi Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf di Hotel El Royale Jakarta pada Februari lalu.

Kala itu, Anas menjadi perwakilan dari caleg PBB yang menjadi salah satu partai pengusung capres-cawapres 01. Awalnya, Ganjar menampilkan materi lembaga survei elektabikitas Jokowi.

Dalam pemaparannya versi saksiini, Ganjar memetakan terdapat 7 provinsi rawan untuk pemenangan Jokowi. Ganjar kemudian menunjukkan data statistik bahwa untuk memenangkan paslon 01 aparat sebaiknya tidak netral.

“Beberapa kali disampaikan, kalau netral buat apa dengan suara yang agak kencang, dan berkali-kali sekitar 3 atau 4 kali,” kata Anas saat persidangan di Gedung MK, Jakarta, Kamis (20/6) dini hari.

Selanjutnya, Ganjar juga menyampaikan bahwa aparat sebaiknya yang membela paslon 01, Jokowi-Ma’ruf. Anas menjelaskan maksud netral itu merujuk bahwa tim Jokowi telah mendapat back up dari aparat.

“Kita memang dimotivasi dari pagi sampai malam. Katanya kalau aparat netral buat apa? Jadi ya kalau diartikan semacam kita sudah di-back up aparat. Ya harus confident kita harus maju,” katanya.

Selain itu, Anas juga mengaku mendapat materi dari Sekretaris TKN, Hasto Kristiyanto, untuk memenangkan Jokowi-Ma’ruf. Hasto memaparkan strategi menggiring opini publik dengan menyebut capres-cawapres 02, Prabowo-Sandi, identik dengan ekstrem dan radikal.

“Diksinya memang ekstrem, radikal, khilafah banyak diselipkan. Itu sudah umum di medsos,” ucap Anas. Ari/INI/Balicitizen

Berita Terkait

Leave A Reply

Your email address will not be published.