The news is by your side.

Soal Blokir Internet di Papua, Fahri Hamzah: Blokir Istana Saja

2

Oleh: Muhajir  |

Balicitizen.com, Jakarta – Aksi blokir jaringan internet di wilayah Papua masih dilakukan oleh pemerintah, dalam hal ini Kementerian Komunikasi dan Informasi. Atas tindakan tersebut, sejumlah pihak mengecam.

Kecaman juga datang dari Wakil Ketua DPR, Fahri Hamzah. Ia mengomentari tindakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) yang memutus data telekomunikasi di wilayah Papua tanpa ada dasar hukum. Istana tidak boleh memutus hak rakyat untuk berkomunikasi.

“Lebih baik istana diblokir,” kata Fahri melalui akun resminya, Sabtu (24/8).

Menurut dia, cara negara menyelesaikan masalah adalah dengan mengajak rakyat menghadapinya, bukan melarang menghadapinya. Gejolak dan dinamika rakyat menandakan kehendak hidup bersama masih kuat.

“Seperti cemburu dalam rumah tangga, semua adalah gelora cinta yang harus didialog-kan agar cinta kita bertambah dan agar hidup tidak membosankan,” ujarnya.

Fahri mengaku telah mengingatkan sejak awal bahwa sepertinya ada kesalahan memahami skala kerja negara pada istana. Negara berubah jadi kontraktor serta infrastruktur dianggap sebagai jalan pintas dan solusi pamungkas semua masalah rakyat.

Padahal, negara tercipta melalui komunitas imajiner seperti kata Ben Andersen. Imajinasi itu dibangun melalui interaksi di ruang publik.

Media adalah medium utama interaksi tersebut. Maka itu, memblokir media bukan jalan keluar, tapi merusak imajinasi bersama kita.

Dia mempertanyakan cara rakyat menjaga negara dan nasionalisme jika istana tidak menggandrungi percakapan di ruang publik. Gejolak dan dinamika rakyat harus dihadapi dengan dialog, tapi istana malah mengganggap memblokir percakapan adalah solusi menghentikan masalah.

Hal inilah yang menyedihkan dari rezim premerintahan Jokowi, matinya ide dan imajinasi tentang tentang komunitas imajiner rakyat. Rakyat dikarang untuk mempelajari kompleksitas Indonesia.

“Negara mendominasi cara rakyat membangun kebersamaan yaitu dengan melupakannya. Kerja..kerja.kerja..” ucap Fahri.

Dia mengajak terus bekerja untuk saling mencintai dalam kerumitan menjadi negara bangsa. Melalui ide dan imajinasi, ruang publik harus dihidupkan dengan percakapan yang sehat. Itulah inti demokrasi di Indonesia.

Nasionalisme tidak turun dari tangit, tapi harus diperjuangkan tiap hari. Maka itu, dia meminta istana agar tidak merusak suasana.

“Ngobrol dong. Jangan main blokir saja dan mengalihkan masalah. Jangan selesaikan masalah dengan menumpuk-nya di bawah karpet istana. Nanti bau busuk bikin rusak suasana,” kata Fahri. Ari/INI/Balicitizen

Berita Terkait
2 Comments
  1. Sonny hartawan says

    Saya setuju Ditutupnya sementara jaringan internet sudah pasti bertujuan utk mengCUT provokasi dan ujaran kebencian di negara ini.
    Orang2 yg sok membela padahal tujuannya adalah memprovokasi.
    Ayolah kita jaga NKRI.
    Siapa kita…?
    INDONESIA

  2. Pieter D Benggolo says

    Pernyataan Wakil Rakyat yang salah urat kepalanya. Kalau memang Fahri orang cerdas seharusnya dia tanya dulu ke KOMINFO apa alasannya baru komen. Fasar koplak.

Leave A Reply

Your email address will not be published.