The news is by your side.

Tak Adanya Regenerasi Jadi Kendala Keberlangsungan Usaha Tenun Bali

0

Oleh: Riki Z   |

Balicitizen.com, Denpasar – Usaha tenun di Bali kebanyakan adalah warisan leluhur dari generasi ke generasi. Karena itu regenerasi penenun kini jadi kendala keberlangsungan usaha tenun di Bali.

Usaha tenun Bali Arta Nadi di Banjar Lantang Katik, Telaga Tawang, Sidemen, Karangasem adalah salahsatu tenpat penghasil kerajinan tenun ikat tradisional Bali berupa endek dan songket. Ini merupakan usaha milik Wayan Suartana atau yang biasa dipanggil Pak Kawi beserta istri Ketut Murni.

Dikatakan Murni, pekerjaan menenun perlu banyak kesabaran karena membutuhkan waktu lama, setidaknya satu bulan untuk tenun ikat biasa, karenanya perajin tenun ikat kebanyakan wanita. Menurut Murni, para perajin tidak selamanya berada di “Bengkel Tenun”-nya, namun kebanyakan membawa pekerjaannya ke rumah masing-masing, mengingat kebanyakan ibu rumah tangga.

Murni menambahkan, beberapa produk yang dihasilkan diantaranya adalah tenun ikat endek dobel, kain endek warna alam, kain gringsing, kain songket, kain songket sutera, kain songket warna alam, serta kain songket katun.

Seiring berjalannya waktu, diakui Murni selain kendala menjangkau pembeli langsung, terbatasnya apresiasi masyarakat terhadap tenun ikat serta rendahnya pemakaian tenun ikat sebagai pakaian sehari-hari menjadi permasalahan yang dihadapi saat ini.

“Saat ini sudah mulai sedikit peminatnya, selain konsumennya sedikit, perajinnya pun tidak terlalu banyak. Sebenarnya ini warisan leluhur yang harus kita jaga, harus ada regenerasinya,” ujarnya.

Hal yang sama juga terjadi di Loka Madya milik Gusti Ayu Oka Rukmini.

Loka Madya adalah salah satu pengrajin tenun ikat, endek, songket yang sudah terkenal di hampir seluruh wilayah Bali, bahkan Indonesia karena proses pengerjaan yang masih menggunakan alat-alat tradisional yang biasa disebut dengan ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin).

Dikatakan Gusti Ayu Oka Rukmini, mengungkapkan kendala yang dihadapi selama ini dalam menjalani usaha salahsatunya adalah regenerasi.

“Tenun Bali bisa dikatakan hampir mengalami kepunahan. Karena saya melihat sulitnya regenerasi di antara para penenun, juga pembeli yang tidak berkembang,” ujarnya. Ari/Balicitizen

Berita Terkait

Leave A Reply

Your email address will not be published.