The news is by your side.

Ulama Khasyaf dan Pesan untuk Prabowo

0

Oleh: Herry M. Joesoef |

Ulama itu pewaris para nabi. Risalah para nabi adalah melaksanakan amar ma’ruf nahyi munkar. Para Nabi berdakwah untuk semua kalangan, dari masyarakat bawah sampai pimpinan negeri. Ustadz Abdul Somad telah menunjukkan identitasnya itu di hadapan Prabowo Subianto.

Balicitizen.com, JakartaAda yang menarik ketika terjadi dialog antara calon presiden Prabowo Subianto dengan ustad Abdul Somad (UAS) yang ditayangkan oleh TV One dan videonya berdera luas, Kamis (11/4). Dalam video itu, Prabowo bertanya dan menyimak dengan takzim atas jawaban dan wejangan yang disampaikan oleh UAS.

UAS berceritera, bahwa dirinya sudah menemui 3 orang ulama kasyaf. Kasyaf berasal dari kata “mukasyafah” (tembus pandang), mengetahui sesuatu yang gaib. Salah satu ulama kasyaf yang didatangi oleh UAS itu tidak mau makan nasi kalau berasnya dibeli di pasar. Berasnya ditanam sendiri. Karena kalau beli di pasar, riba (katanya). Dia hanya mau minum kalau sumurnya digali sendiri. Dan tidak mau menerima tamu perempuan. Di akhir pertemuan, para ulama tersebut selalu membisikkan kata “Prabowo”. Atas dasar itulah UAS menemui Prabowo untuk menyampaikan isyarah dari ketiga ulama kasyaf tersebut.

Yang menarik adalah, setelah menyampaikan isyarat dari ketiga ulama kasyaf tersebut, UAS memberi nasihat kepada Prabowo. “Kalau bapak nanti duduk sebagai presiden, terkait dengan saya pribadi, dua saja.Pertama, jangan bapak undang saya ke istana. Biarkan saya berdakwah masuk ke dalam hutan. Karena memang saya dari awal sudah di sana. Saya orang kampung. Saya masuk hutan ke hutan.

Kedua, jangan bapak beri saya jabatan, apa pun. Saya di antara 40 cucu mbah kakek saya, dia bilang, ‘Cucuku yang satu ini hanya sekolah agama untuk mendidik umat’. Sudah, selesai. Makanya tak pernah sekolah umum. Jadi, biarlah saya terbang sejauh mata memandang saya ceramah.”

Begitulah UAS, ulama ukhrowi ini memberi wejangan kepada Prabowo yang sedang jadi calon presiden dalam Pilpres 17 April mendatang. Dialah tipe ulama Rabbani, yang mengharamkan dirinya mendatangi istana, dan menolak jabatan duniawi. Ulama model begini ini semakin langka di era akhir jaman yang penuh dengan fitnah dalam balutan berita-berita hoaks ini.

Dalam diri UAS mengalir darah ulama dalam artian sebagai pewaris para nabi, menyuarakan amar ma’ruf nahyi munkar. Ini yang membedakan UAS dengan ulama kebanyakan di republik ini. Bahkan, ada seorang ustad yang sedang menghadapi masalah hukum, memberi sanjungan atas shalat dan puasa yang dilakukan oleh junjungannya.

Coba bandingkan. Yang satu mewakili ulama ukhrowi, yang sama sekali tidak tertarik jabatan duniawi. Ia mampu memberikan wejangan kepada salah seorang calon presiden. Keikhlasannya mampu menembus nurani sang calon presiden. Bahkan, Prabowo pun tak mampu membendung air matanya.

Adapun ulama yang satunya lagi, punya banyak masalah, sedang dalam proses hukum, bergaul dengan para pejabat, keluar masuk istana, tidak pernah keluar nasihatnya. Justru, yang keluar adalah sanjungan yang luar biasa kepada junjungannya. Yang satu membuat orang tersentuh dan menangis; yang satunya lagi membuat orang jadi miris.

Meskipun begitu, kita tetap menghormati apa yang akan terjadi pada 17 April nanti. Apakah calon yang didukung oleh para ulama kasyaf akan berhasil memenangkan lomba Pilpres nanti? Sepenuhnya itu takdir Ilahi. Apa pun hasilnya, itu wilayah takdir.

Walaupun begitu, ada takdir yang diridhoi, ada juga takdir yang tidak diridhoi oleh Yang Maha Esa, Allah azza wa Jalla. Menang karena jujur, itu takdir yang diridhoi. Menang karena curang, itu takdir yang tidak diridhoi. Semoga, siapa pun yang bakal menang, menang karena jujur, bukan sebaliknya. Wallahu A’lam. (HMJ)

Berita Terkait

Leave A Reply

Your email address will not be published.