The news is by your side.

Walhi Desak Polisi Transparan Usut Kematian Golfried

0

Oleh: Daniel P   |   

Balicitizen.com, Medan  – Kematian aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) dan lingkungan hidup Golfried Siregar masih menyimpan misteri. Keluarga Golfried dan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) melihat sejumlah kejanggalan. Polisi pun didesak untuk transparan dalam mengusut kasus ini.

Direktur Walhi Sumut, Dana Prima Tarigan mengungkapkan, sejak awal pihaknya menjumpai kejanggalan, terutama pada tubuh korban. Tempurung kepalanya pecah seperti dihantam benda tumpul. Mata kanannya juga lebam.

Dugaan kecelakaan lalu lintas yang disebut polisi masih menuai tanda tanya. Hingga saat ini polisi masih melakukan penyelidikan. Polda Sumut juga  sampai membuat tim khusus untuk mengusut kasus kematian Golfried.

Polisi sudah melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) di Underpass Titi Kuning (sebelumnya disebutkan di Jalan Layang Jamin Ginting. Namun berpindahnya TKP ini juga dipertanyakan Walhi. Mereka berharap polisi bisa profesional dalam menangani kasus kuasa hukum mereka itu.

“Pada saat itu juga, kita tanya kepolisian. Dia bilang di Fly Over. Buktinya tidak di sana. itu kan menjadi keganjilan buat kita,” kata Dana saat ikut menyaksikan olah TKP, Rabu (9/10).

Selain itu, hingga kini pihaknya belum menerima hasil otopsi jenazah Golfried. Keluarga pun menunggu. Karena menurut Dana otopsi itu menjadi petunjuk. Apakah Golfried memang mengalami kecelakaan, atau ada dugaan Golfried dianiaya. Keganjilan juga terlihat karena dompet, cincin serta komputer jinjing yang dibawa Golfried hilang.

“Jika ini tidak diusut maka akan menimbulkan asumsi liar,” tukasnya.

Dana merinci, sejak 2016, Golfried Siregar menjadi advokat di Walhi Sumut. Selama itu juga dia menangani cukup banyak kasus-kasus lingkungan. Walhi Sumut pun melakukan investigasi internal. Apakah kematian Golfried terkait kasus yang diadvokasinya.

Pihaknya akan menginventarisir kasus-kasus Walhi yang ditangani Golfried, termasuk kasus lain di luar itu, karena korban sendiri merupakan pengacara.

Sejumlah kasus yang pernah dan sedang ditangani Golfried antara lain, pendampingan masyarakat terdampak aktivitas sejumlah perusahaan di Simalungun. Lalu kasus perambahan hutan di Kabupaten Karo. Kemudian Nelayan Pantai Labu, Kabupaten Deli Serdang terkait perusahaan penambang pasir laut.

Teranyar, Golfried menjadi Kuasa Hukum Walhi saat menggugat soal Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) PLTA Batangtoru yang dikembangkan PT. NSHE.  “Itu kajian hukumnya Golfried semua yang buat,” pungkas Dana.

Sebelumnya, Golfried diinformasikan ditemukan tak sadarkan diri oleh tukang becak, Kamis (3/10) dini hari. Dia dilarikan ke RS Adam Malik. Kondisinya kritis hingga meninggal dunia pada Minggu (6/10) petang. Ari/INI/Balicitizen

Berita Terkait

Leave A Reply

Your email address will not be published.