Robot humanoid kini mampu berjalan, menari, hingga bertinju. Namun, membuat robot mampu melakukan pekerjaan yang benar-benar berguna secara konsisten di lingkungan fisik yang sulit diprediksi masih menjadi salah satu tantangan terbesar dalam pengembangan kecerdasan buatan.
Ketua ACE Robotics, Wang Xiaogang, menilai kemajuan model kecerdasan buatan dan pengumpulan data dari dunia nyata dapat segera membawa kecerdasan robot ke tahap baru. Terobosan tersebut berpotensi mendorong robot humanoid dari sekadar demonstrasi teknologi menuju penggunaan komersial.
ACE Robotics Prediksi Terobosan Besar Kecerdasan Buatan Berwujud
“Kami memperkirakan akan mencapai ‘momen ChatGPT’ untuk kecerdasan berwujud pada akhir tahun depan, didorong oleh model dunia dan pengumpulan data lingkungan,” kata Wang.
ACE Robotics merupakan perusahaan rintisan asal China yang mengembangkan model kecerdasan buatan untuk robot humanoid. Perusahaan tersebut didukung oleh Ant Group dan SenseTime serta telah mengumpulkan pendanaan lebih dari US$100 juta pada paruh pertama 2026.
Menurut Reuters, perusahaan juga berencana melakukan penawaran umum perdana saham “secepat diizinkan.”
Perkembangan tersebut mencerminkan meningkatnya perhatian industri teknologi terhadap kecerdasan buatan berwujud, terutama ketika perusahaan berupaya membawa kemampuan kecerdasan buatan dari perangkat lunak ke mesin yang dapat beroperasi langsung di dunia fisik.
Kekurangan Data Masih Menjadi Tantangan Utama
Model bahasa besar seperti ChatGPT dan DeepSeek berkembang dan digunakan secara luas dalam waktu relatif singkat. Namun, robot menghadapi tantangan berbeda karena harus memahami lingkungan fisik yang terus berubah sekaligus menjalankan berbagai pekerjaan di tempat yang belum pernah ditemui sebelumnya.
Kecerdasan buatan berwujud memungkinkan robot dan perangkat fisik lainnya mengenali lingkungan, melakukan penalaran, kemudian mengubah keputusan menjadi tindakan melalui sensor dan penggerak mekanis.
Sementara itu, model dunia membantu sistem kecerdasan buatan memahami cara kerja dunia fisik dengan mempelajari perilaku benda dan lingkungan.
Bagi robot, teknologi tersebut memungkinkan mesin memperkirakan apa yang mungkin terjadi ketika bergerak, mengambil benda, atau berinteraksi dengan lingkungan sebelum benar-benar melakukan tindakan.
Meski potensinya besar, ketersediaan data pelatihan masih menjadi hambatan penting.
“Selama beberapa tahun terakhir, seluruh industri telah mengumpulkan data sekitar 100.000 jam, yang masih jauh dari cukup untuk melatih model dasar kecerdasan berwujud,” ujar Wang.
Gerakan Manusia Digunakan untuk Melatih Robot
Para peneliti di berbagai negara juga sedang mengembangkan metode untuk mengatasi keterbatasan data tersebut.
Salah satu pendekatan yang diperkenalkan adalah HumanoidExo, perangkat kerangka luar yang dapat dikenakan manusia untuk merekam gerakan tubuh. Data gerakan tersebut kemudian dapat digunakan untuk melatih robot humanoid agar memahami pola pergerakan manusia.
Metode semacam ini dinilai penting karena robot membutuhkan data dalam jumlah besar dan beragam untuk mempelajari cara bergerak serta berinteraksi dengan berbagai benda dalam kondisi dunia nyata.
Persaingan Pengembangan Kecerdasan Buatan untuk Robot Meningkat
Sejumlah perusahaan teknologi juga mempercepat pengembangan model kecerdasan buatan yang dirancang khusus untuk robot.
Boston Dynamics telah memperkenalkan versi produksi robot humanoid Atlas. Perusahaan tersebut mengatakan kemajuan dalam kecerdasan buatan membantu membawa robot itu semakin dekat menuju penggunaan komersial.
Alibaba juga memperkenalkan Qwen-Robot Suite, rangkaian model kecerdasan buatan yang dirancang untuk membantu robot melakukan navigasi, menjalankan tugas fisik, serta menyimulasikan lingkungan dunia nyata.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa persaingan dalam industri robotika tidak lagi hanya berpusat pada kemampuan perangkat keras. Kualitas model kecerdasan buatan, perangkat lunak, serta jumlah dan keragaman data pelatihan semakin menentukan kemampuan robot dalam menjalankan pekerjaan secara efektif.
Bagi Indonesia, perkembangan robot humanoid juga dapat menjadi perhatian dalam jangka panjang, terutama bagi sektor manufaktur, logistik, pergudangan, dan layanan yang semakin banyak memanfaatkan otomatisasi.
Meski terobosan besar dalam kecerdasan buatan berwujud diperkirakan semakin dekat, penggunaan robot secara luas kemungkinan masih membutuhkan waktu. Keandalan, keselamatan, biaya, serta kemampuan beradaptasi dengan lingkungan nyata akan menjadi faktor penting dalam menentukan seberapa cepat robot cerdas dapat digunakan secara komersial dalam skala besar.

Fikri Maulana adalah penulis di Balicitizen.com yang mengulas berbagai topik, termasuk berita, politik, bisnis, teknologi, olahraga, hiburan, dan gaya hidup. Ia berfokus pada penyajian informasi yang jelas, akurat, dan mudah dipahami, sehingga pembaca dapat mengikuti perkembangan isu terkini dengan lebih baik. Melalui pendekatan yang objektif dan informatif, Fikri menghadirkan laporan serta cerita yang relevan dengan kehidupan masyarakat dan kebutuhan pembaca sehari-hari.

Berita Lainnya
Gemini Perluas Integrasi Aplikasi untuk Produktivitas, Hiburan, dan Layanan Harian
Aliensense Perkenalkan NXS, Papan Sensor Ringkas untuk Mempermudah Integrasi Kamera dan Sensor pada Robot
Copilot vs Akses API Langsung: Apa yang Sebenarnya Dibayar Pengembang?