Penelitian kesehatan berbasis teknologi digital menjadi fokus utama aktivitas ilmiah di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS). Para awak misi Ekspedisi 74 memanfaatkan teknologi realitas tertambah, realitas virtual, serta kecerdasan buatan untuk mempelajari dampak lingkungan antariksa terhadap tubuh manusia. Selain menjalankan berbagai eksperimen medis, para astronaut juga mulai mempersiapkan aktivitas luar wahana yang dijadwalkan berlangsung pada akhir bulan.
Teknologi Digital Dukung Pemantauan Kesehatan Astronaut
Insinyur penerbangan NASA, Jessica Meir dan Jack Hathaway, memulai aktivitas mereka di modul laboratorium Columbus dengan melakukan pemindaian pembuluh darah di bawah bimbingan tim dokter di Bumi.
Keduanya bergantian menggunakan perangkat ultrasonografi EchoFinder-2 yang dirancang untuk mengumpulkan data kesehatan melalui kombinasi teknologi realitas tertambah dan kecerdasan buatan. Perangkat medis yang disediakan oleh Badan Antariksa Eropa tersebut menampilkan panduan visual yang membantu operator mengarahkan alat pemindai dengan lebih akurat.
Selain itu, perangkat lunak kecerdasan buatan yang terintegrasi mampu mengenali organ tubuh subjek secara otomatis. Teknologi yang ringan dan mudah digunakan ini diharapkan dapat mendukung pemantauan kesehatan mandiri bagi awak pesawat ruang angkasa dalam misi jangka panjang menuju Bulan, Mars, dan tujuan eksplorasi lainnya.
Penelitian Bakteri dan Ketahanan terhadap Antibiotik
Setelah menyelesaikan penelitian kesehatan, Hathaway melanjutkan pekerjaannya di modul Harmony dengan memasukkan sampel bakteri ke dalam alat pengurut materi genetik portabel.
Melalui penelitian ini, para ilmuwan berupaya memahami bagaimana bakteri beradaptasi dan mengembangkan ketahanan terhadap antibiotik di lingkungan mikrogravitasi. Hasil penelitian tersebut penting untuk mengetahui potensi risiko infeksi yang dapat dihadapi astronaut selama menjalankan misi luar angkasa dalam jangka waktu lama.
Pengujian Sistem Keseimbangan Menggunakan Realitas Virtual
Sementara itu, Jessica Meir membantu rekan sesama astronaut NASA, Chris Williams, dalam eksperimen berbasis realitas virtual.
Williams mengenakan kacamata realitas virtual untuk mengukur kemampuannya dalam mendeteksi keseimbangan, orientasi, dan gerakan tubuh di lingkungan tanpa gravitasi. Selama pengujian berlangsung, perangkat merekam pergerakan matanya saat ia merespons rangsangan visual yang dihasilkan oleh perangkat lunak komputer.
Penelitian mengenai sistem vestibular ini merupakan bagian dari rangkaian 14 eksperimen kesehatan manusia dalam program CIPHER. Tujuannya adalah memahami bagaimana sistem saraf astronaut beradaptasi terhadap kondisi tanpa bobot sehingga dapat meningkatkan pelatihan dan keselamatan awak pada misi antariksa masa depan.
Dukungan Penelitian dari Astronaut Eropa
Astronaut Badan Antariksa Eropa, Sophie Adenot, turut mendukung berbagai penelitian kesehatan digital di ISS. Ia membantu menyiapkan perangkat EchoFinder-2, menghubungkannya ke komputer tablet, serta memasang kamera yang digunakan untuk memantau proses studi pembuluh darah.
Selanjutnya, Adenot menata area kerja pemeliharaan di modul Harmony dan mengambil wadah pendingin mini untuk menyimpan sampel bakteri yang digunakan dalam penelitian antibiotik.
Di sela aktivitas ilmiah tersebut, ia juga memotret Bulan untuk mengamati pantulan cahaya Bumi pada permukaannya. Pengamatan ini memberikan data tambahan bagi penelitian astronomi dan lingkungan antariksa.
Persiapan Aktivitas Luar Wahana
Menjelang akhir jadwal kerja harian, keempat astronaut berkumpul untuk mengikuti konferensi jarak jauh bersama para ahli aktivitas luar wahana di Bumi.
Diskusi tersebut membahas peralatan dan prosedur yang diperlukan untuk memperbaiki sambungan pergelangan pada lengan robotik Canadarm2. Perbaikan akan dilakukan melalui aktivitas luar wahana yang direncanakan berlangsung pada akhir bulan.
NASA dijadwalkan segera mengumumkan nama astronaut yang akan menjalankan tugas tersebut serta memberikan penjelasan lebih rinci menjelang pelaksanaan misi.
Kosmonaut Rusia Jalankan Penelitian Neurologi
Di segmen Rusia ISS, insinyur penerbangan Roscosmos, Andrey Fedyaev, melaksanakan penelitian neurologi menggunakan perangkat realitas virtual. Selama eksperimen berlangsung, aktivitas otaknya dipantau menggunakan elektroda, sementara sistem komputer mengukur pergerakan mata serta kemampuannya mengenali arah, posisi, dan gerakan.
Komandan stasiun Sergey Kud-Sverchkov bersama insinyur penerbangan Sergei Mikaev memulai hari kerja mereka di modul sains Nauka dengan memeriksa komponen pendukung generator oksigen Elektron.
Kud-Sverchkov kemudian menguji perangkat komunikasi di dalam wahana awak Soyuz MS-28. Sementara itu, Mikaev menyelesaikan kuis komputer untuk mendokumentasikan kondisi mentalnya sebelum mengakhiri sesi pemantauan tekanan darah dan aktivitas jantung yang berlangsung selama 24 jam.
Wahana Kargo Kembali Membawa Sampel Penelitian ke Bumi
Wahana kargo Dragon milik SpaceX telah berhasil kembali ke Bumi setelah melepaskan diri dari ISS dan mendarat di Samudra Pasifik.
Dragon membawa pulang berbagai sampel ilmiah sensitif dari sejumlah penelitian penting, termasuk studi produksi sel punca, pencetakan jaringan tulang rawan, serta eksperimen biomedis lainnya.
Data dan sampel tersebut diharapkan dapat membantu pengembangan terapi untuk berbagai kondisi kesehatan, mulai dari penyakit darah, kanker, hingga cedera tulang rawan.
Penelitian Antariksa Dorong Kemajuan Ilmu Kesehatan
Beragam eksperimen yang berlangsung di ISS menunjukkan bagaimana teknologi modern semakin berperan dalam penelitian kesehatan antariksa. Temuan yang diperoleh tidak hanya mendukung keselamatan astronaut dalam misi jangka panjang, tetapi juga berpotensi menghasilkan inovasi medis yang dapat dimanfaatkan masyarakat di Bumi pada masa mendatang.

“Spesialis budaya pop. Ahli makanan yang setia. Praktisi musik yang ramah. Penggemar twitter yang bangga. Penggila media sosial. Kutu buku bepergian.”

More Stories
Peta 3D Terbesar Alam Semesta Selesai, Ilmuwan Bidik Misteri Energi Gelap
Ilmuwan Berhasil Mengamati “Pasangan Menari” Superkonduktivitas untuk Pertama Kalinya
Misteri Fusi Nuklir Akhirnya Terpecahkan, Peran Rotasi Plasma Terungkap