Para ilmuwan mencatat pencapaian penting dalam studi kosmologi setelah berhasil menyelesaikan peta tiga dimensi (3D) terbesar dan paling detail dari alam semesta. Peta ini diharapkan membuka pemahaman baru tentang energi gelap—gaya misterius yang diyakini mendominasi sebagian besar isi kosmos dan memengaruhi laju ekspansi alam semesta.
Proyek DESI Rampung Lebih Cepat dari Jadwal
Pemetaan dilakukan melalui proyek Dark Energy Spectroscopic Instrument (DESI), yang kini telah menyelesaikan seluruh area target observasinya. Menariknya, proyek ini tidak hanya selesai lebih cepat dari jadwal, tetapi juga menghasilkan data yang jauh melampaui ekspektasi awal.
Dataset raksasa tersebut menjadi representasi 3D beresolusi tinggi paling lengkap yang pernah dibuat. Para peneliti akan memanfaatkannya untuk menyelidiki energi gelap, yang diperkirakan menyusun sekitar 70% dari total isi alam semesta.
Memetakan 47 Juta Galaksi dan Quasar
Selama lima tahun pengamatan, DESI berhasil mengumpulkan data dari lebih dari 47 juta galaksi dan quasar, serta sekitar 20 juta bintang. Skala ini menjadikannya salah satu survei kosmik terbesar dalam sejarah astronomi.
Menurut Paul Martini, ilmuwan instrumen saat pembangunan DESI sekaligus profesor astronomi, data tersebut telah memberikan wawasan penting tentang struktur alam semesta dan bagaimana ia berevolusi sejak awal terbentuk.
“DESI merupakan kolaborasi internasional yang luar biasa, dan hasil ilmiahnya menjadi contoh nyata dampaknya terhadap komunitas sains global,” ujarnya.
Kolaborasi Global Dorong Riset Energi Gelap
Proyek DESI melibatkan lebih dari 900 peneliti dari lebih dari 70 institusi di berbagai negara, termasuk sekitar 300 mahasiswa doktoral. Proyek ini dikelola oleh Lawrence Berkeley National Laboratory di bawah Departemen Energi Amerika Serikat.
Tim dari Ohio State University menjadi salah satu kontributor utama, khususnya dalam analisis data awal dan penelitian terkait kemungkinan perubahan sifat energi gelap.
Klaus Honscheid, profesor fisika sekaligus pimpinan operasi instrumen DESI, menyatakan bahwa kontribusi universitasnya mencakup pengembangan instrumen, operasional, hingga infrastruktur analisis data.
“Kami bangga atas hasil terdepan dunia dalam penelitian energi gelap, sekaligus perhatian luas dari media internasional terhadap pencapaian ini,” katanya.
Tantangan Teknis Selama Observasi
Meski berjalan ambisius, proyek ini tidak lepas dari hambatan. Salah satu gangguan terbesar terjadi pada 2022 ketika kebakaran hutan Contras menyebabkan terputusnya listrik dan akses internet di observatorium selama berbulan-bulan.
Ashley Ross, ilmuwan utama untuk katalog struktur skala besar DESI, menjelaskan bahwa tim harus mencari solusi kreatif untuk menjaga kelangsungan penelitian.
“Dengan pendekatan inovatif terhadap berbagai kendala tak terduga, data berkualitas tinggi yang kami kumpulkan tetap dapat digunakan secara optimal untuk menghasilkan temuan kosmologis yang signifikan,” ujarnya.
Data Baru Berpotensi Ubah Pemahaman Kosmos
Dengan selesainya seluruh dataset, para ilmuwan kini memiliki sumber data yang sangat kuat untuk menguji teori-teori lama mengenai keseimbangan antara energi gelap dan materi di alam semesta.
Secara keseluruhan, DESI telah mengumpulkan enam kali lebih banyak data galaksi dan quasar dibandingkan seluruh pengukuran sebelumnya. Proses analisis penuh akan segera dimulai, dengan hasil awal dari survei lima tahun ini diperkirakan dirilis pada 2027.
Observasi Berlanjut Hingga 2028
Meski misi utama telah selesai, DESI akan terus melakukan observasi hingga 2028. Fokus berikutnya adalah menjangkau area langit yang lebih sulit diamati, termasuk objek-objek dekat seperti galaksi kerdil dan aliran bintang.
Langkah ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih utuh tentang proses pembentukan dan evolusi alam semesta.
Selain itu, tim peneliti akan terus menyempurnakan pengukuran energi gelap dengan data yang telah dikumpulkan, sekaligus meningkatkan penggunaan teleskop untuk mendukung penemuan baru.
“Cakupan survei yang lebih luas akan meningkatkan akurasi parameter kosmologi dan memperkuat penelitian materi gelap. Semua ini tidak lepas dari kerja keras tim operasional yang menjaga kelangsungan proyek,” ujar Honscheid.
Dukungan Luas dari Komunitas Ilmiah Global
Proyek DESI didukung oleh berbagai lembaga internasional, termasuk Departemen Energi AS, National Science Foundation, serta institusi ilmiah dari Inggris, Prancis, Spanyol, dan Meksiko. Dukungan juga datang dari sejumlah yayasan penelitian global.
Selain itu, kolaborasi DESI juga menyampaikan penghormatan kepada komunitas lokal atas penggunaan lokasi penelitian di Kitt Peak, yang memiliki nilai budaya penting bagi masyarakat adat Tohono O’odham.
Kesimpulan
Penyelesaian peta 3D terbesar alam semesta menandai tonggak baru dalam eksplorasi kosmos. Dengan data yang jauh lebih luas dan detail, para ilmuwan kini memiliki peluang besar untuk mengungkap misteri energi gelap dan memahami masa depan alam semesta dengan lebih akurat.

“Spesialis budaya pop. Ahli makanan yang setia. Praktisi musik yang ramah. Penggemar twitter yang bangga. Penggila media sosial. Kutu buku bepergian.”

More Stories
Penelitian Kesehatan Canggih di Stasiun Luar Angkasa Internasional Manfaatkan Teknologi Realitas Tertambah dan Realitas Virtual
Ilmuwan Berhasil Mengamati “Pasangan Menari” Superkonduktivitas untuk Pertama Kalinya
Misteri Fusi Nuklir Akhirnya Terpecahkan, Peran Rotasi Plasma Terungkap