Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate di level 5,75 persen, sesuai dengan perkiraan mayoritas ekonom. Keputusan ini menjadi kebijakan suku bunga pertama di bawah kepemimpinan Gubernur BI Destry Damayanti.
Langkah tersebut mencerminkan fokus bank sentral dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, mengendalikan inflasi, dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian pasar keuangan global.
BI-Rate Tetap di Level 5,75 Persen
Selain mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75 persen, bank sentral juga menjaga suku bunga Deposit Facility di level 4,75 persen dan Lending Facility sebesar 6,50 persen.
Keputusan tersebut sejalan dengan ekspektasi pasar. Sebanyak 29 dari 32 ekonom yang disurvei Reuters sebelumnya memperkirakan Bank Indonesia tidak akan mengubah tingkat suku bunga acuannya.
Menurut Destry, kebijakan tersebut konsisten dengan upaya BI untuk menstabilkan rupiah, menjaga inflasi tetap berada dalam kisaran sasaran, sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi.
Bank Indonesia sebelumnya menaikkan suku bunga dengan total 100 basis poin melalui tiga langkah kebijakan. Pengetatan moneter dilakukan untuk mempertahankan rupiah ketika mata uang Indonesia mengalami tekanan dan sempat menyentuh level terendah terhadap dolar Amerika Serikat.
Rupiah Masih Menghadapi Tekanan
Setelah sempat pulih, rupiah kembali mengalami tekanan dalam beberapa pekan terakhir. Kekhawatiran investor terhadap prospek fiskal Indonesia serta kenaikan harga minyak menjadi beberapa faktor yang memengaruhi sentimen pasar.
Menjelang pengumuman kebijakan BI, rupiah bergerak menguat. Penguatan berlanjut setelah keputusan diumumkan, dengan mata uang Indonesia naik sekitar 0,36 persen terhadap dolar AS.
Stabilitas rupiah tetap menjadi salah satu perhatian utama bank sentral. Perubahan sentimen investor global, pergerakan harga komoditas, serta kebijakan suku bunga di negara-negara dengan perekonomian besar dapat memberikan tekanan terhadap pasar keuangan domestik.
Destry Damayanti Jadi Perempuan Pertama yang Memimpin BI
Destry menjadi perempuan pertama yang memimpin Bank Indonesia. Sebelum menjabat sebagai gubernur, ia telah menjalankan tugas sebagai pemimpin sementara bank sentral dalam rapat kebijakan sebelumnya, ketika BI juga memutuskan mempertahankan suku bunga.
Pergantian kepemimpinan terjadi setelah Perry Warjiyo secara mengejutkan mengundurkan diri dari jabatan gubernur.
Perubahan tersebut sempat meningkatkan perhatian investor terhadap independensi bank sentral. Kekhawatiran sebelumnya juga muncul setelah Presiden Prabowo Subianto menunjuk keponakannya untuk menduduki posisi senior di Bank Indonesia dan parlemen memperluas mandat bank sentral untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.
Meski demikian, penunjukan Destry mendapat sambutan positif dan dipandang memberikan kesinambungan bagi arah kebijakan moneter Bank Indonesia.
Arus Modal Keluar dan Risiko Global
Pasar keuangan Indonesia juga menghadapi tekanan akibat kekhawatiran mengenai belanja fiskal dan persoalan transparansi di pasar saham, yang turut memicu arus modal keluar.
Pada saat yang sama, meningkatnya sikap menghindari risiko di kalangan investor akibat konflik di Timur Tengah dan kenaikan suku bunga di sejumlah negara besar turut memberikan tekanan terhadap aset Indonesia.
Situasi tersebut membuat BI perlu menyeimbangkan kebutuhan menjaga stabilitas nilai tukar dengan upaya mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi domestik.
Inflasi Tetap Berada dalam Sasaran BI
Inflasi tahunan Indonesia meningkat menjadi 3,19 persen, tetapi masih berada dalam kisaran sasaran Bank Indonesia sebesar 1,5 persen hingga 3,5 persen.
Subsidi bahan bakar pemerintah turut membantu menahan tekanan harga di dalam negeri. Inflasi yang masih berada dalam rentang sasaran memberikan ruang bagi bank sentral untuk mempertahankan suku bunga tanpa melakukan pengetatan tambahan.
Ke depan, kebijakan Bank Indonesia akan tetap mempertimbangkan perkembangan rupiah, inflasi, arus modal asing, harga komoditas global, serta arah kebijakan moneter negara-negara besar. Dengan BI-Rate tetap sebesar 5,75 persen, bank sentral berupaya menjaga keseimbangan antara stabilitas ekonomi dan pertumbuhan nasional.

Fikri Maulana adalah penulis di Balicitizen.com yang mengulas berbagai topik, termasuk berita, politik, bisnis, teknologi, olahraga, hiburan, dan gaya hidup. Ia berfokus pada penyajian informasi yang jelas, akurat, dan mudah dipahami, sehingga pembaca dapat mengikuti perkembangan isu terkini dengan lebih baik. Melalui pendekatan yang objektif dan informatif, Fikri menghadirkan laporan serta cerita yang relevan dengan kehidupan masyarakat dan kebutuhan pembaca sehari-hari.

Berita Lainnya
Visi Asia 2021 – Masa Depan dan Negara Berkembang
Ketenangan yang aneh menyelimuti penangkapan mantan penduduk Delft di Indonesia – seorang jurnalis kriminal
Avans+ ingin memulihkan jutaan dolar akibat kegagalan pelatihan dengan pelajar Indonesia