Orkestra musik klasik terkemuka dunia kembali menjadi sorotan setelah berhasil memperoleh instrumen bersejarah bernilai jutaan dolar. Akuisisi ini bukan sekadar penambahan koleksi, melainkan langkah strategis untuk memperkaya kualitas artistik dan warisan musik yang mereka miliki.
Australian Chamber Orchestra (ACO) resmi mengakuisisi sebuah viola langka buatan tahun 1610 karya pembuat alat musik legendaris asal Brescia, Italia, Giovanni Paolo Maggini. Instrumen ini akan dimainkan oleh pemain viola utama ACO, Stefanie Farrands.
Instrumen berusia lebih dari 400 tahun tersebut diyakini sebagai satu-satunya viola tenor Maggini yang masih bertahan hingga saat ini.
Ditemukan di New York, Langsung Memberi Kesan Mendalam
Stefanie Farrands, yang menjabat sebagai principal viola sejak 2020, mengisahkan momen pertama kali ia menemukan instrumen tersebut di New York, Amerika Serikat.
Menurut Farrands, viola itu berada di antara sejumlah instrumen lain yang sedang ia coba.
“Instrumen itu berada di posisi nomor lima. Setelah berjam-jam mengkritisi, mencoba, dan memahami karakter setiap viola, saat saya mengangkat nomor lima, saya merasakan resonansinya langsung di tulang selangka saya. Saya langsung diliputi emosi,” ujarnya.
Pengalaman tersebut menjadi titik awal keputusan untuk membawa instrumen langka itu ke Australia.
Satu-satunya Viola Tenor Maggini yang Masih Ada
Viola Maggini ini merupakan jenis viola tenor, ukuran yang lebih besar dibanding viola modern pada umumnya. Jenis ini populer pada era awal musik Barok, tetapi kini sangat jarang ditemukan karena banyak yang dimodifikasi atau tidak bertahan.
ACO menyatakan instrumen ini kemungkinan merupakan satu-satunya contoh yang masih tersisa dalam kondisi asli.
Bagi dunia musik klasik, instrumen seperti ini setara dengan artefak budaya bernilai tinggi, mirip seperti koleksi benda pusaka di museum nasional.
Nilai Lebih dari Rp45 Miliar, Dibeli Lewat Dana Khusus
Instrumen tersebut dibeli dengan harga lebih dari 3 juta dolar AS, atau setara lebih dari Rp45 miliar (kurs sekitar Rp15.000 per dolar AS).
Pembelian ini didanai melalui Instrument Fund milik ACO, sebuah dana khusus yang digunakan untuk memperoleh instrumen langka bagi para musisi mereka.
Untuk membiayai pembelian tersebut, dana tersebut bahkan menjual biola Guarneri buatan tahun 1714.
Instrument Fund sebelumnya juga telah mengoleksi sejumlah instrumen bersejarah lainnya, antara lain:
-
Biola Stradivari tahun 1728–1729 yang dimainkan Satu Vänskä
-
Biola Brothers Amati tahun 1590 yang dimainkan Ilya Isakovich
-
Cello Brothers Amati tahun 1616 yang dimainkan Timo-Veikko Valve
Instrumen-instrumen ini dikenal sebagai karya para maestro pembuat alat musik Italia yang kualitas suaranya dianggap tak tertandingi.
Memiliki Riwayat Kepemilikan Bergengsi
Viola Maggini tahun 1610 ini juga memiliki sejarah panjang dan prestisius.
Instrumen tersebut pernah dimiliki oleh pemain biola Inggris Henry Holmes, sebelum berpindah tangan melalui sejumlah dealer alat musik klasik ternama, termasuk:
-
W. E. Hill & Sons di London
-
Rudolph Wurlitzer Company di Amerika Serikat
Selain itu, viola ini juga pernah menjadi bagian dari koleksi pribadi kolektor instrumen klasik Amerika, John T. Roberts, yang dikenal sebagai salah satu kolektor berpengaruh di bidangnya.
Riwayat kepemilikan ini turut meningkatkan nilai historis dan reputasi instrumen tersebut.
Investasi Budaya dan Artistik Jangka Panjang
Akuisisi ini menandai pembelian viola pertama oleh Instrument Fund ACO, sekaligus memperkuat posisi orkestra tersebut sebagai salah satu institusi musik klasik dengan koleksi instrumen terbaik di dunia.
Dalam dunia musik klasik, kualitas instrumen sangat memengaruhi karakter suara dan interpretasi musikal. Instrumen bersejarah seperti Maggini tidak hanya menghasilkan suara yang unik, tetapi juga membawa warisan tradisi berabad-abad.
Bagi Stefanie Farrands dan ACO, kehadiran viola ini bukan sekadar aset finansial, melainkan sumber inspirasi artistik.
Kesimpulan
Pembelian viola Maggini tahun 1610 oleh Australian Chamber Orchestra menjadi tonggak penting dalam pelestarian warisan musik klasik dunia. Dengan nilai lebih dari Rp45 miliar dan sejarah lebih dari empat abad, instrumen ini tidak hanya memperkaya kualitas musikal ACO, tetapi juga memastikan bahwa suara bersejarah tersebut tetap hidup di panggung konser modern.

“Spesialis budaya pop. Ahli makanan yang setia. Praktisi musik yang ramah. Penggemar twitter yang bangga. Penggila media sosial. Kutu buku bepergian.”

More Stories
Indonesia Perkuat Strategi Wisata Olahraga melalui Seri Lari Geopark 2026–2027
Produser Intan Kieflie Bawa Deretan Film Horor Indonesia ke Pasar Film Cannes
Jadwal dan tempat menonton di TV