BALICITIZEN

Ikuti perkembangan terkini Indonesia di lapangan dengan berita berbasis fakta PosPapusa, cuplikan video eksklusif, foto, dan peta terbaru.

Bank Indonesia berencana meluncurkan CPTC

Bank Indonesia (PI) berencana memperkenalkan rupee digital karena bank sentral di seluruh dunia terus bersaing untuk penerbitan CPTC. Sebuah laporan pada 25 Mei mengungkapkan kabar bahwa otoritas sudah mempertimbangkan situs yang dapat menjalankan rupiah digital. Keputusan Indonesia menerbitkan CPTC bertujuan untuk memodernisasi sistem keuangan Indonesia sekaligus melindungi perekonomian negara dari mata uang kripto.

Demikian Melaporkan PI berharap digital rupee juga akan membantu mempercepat transaksi domestik dan internasional, terutama seiring dengan meningkatnya jumlah transaksi digital di Tanah Air selama wabah COVID-19. Data BI menunjukkan frekuensi transaksi perbankan digital meningkat 60,3% per tahun. Bank juga melaporkan peningkatan 46% dalam jumlah uang yang diperdagangkan melalui platform digital.

Apakah Anda mencari berita terkini, tip bagus, dan analisis pasar?

Daftar hari ini untuk Inves Newsletter.

Menurut Gubernur PI Perry Vargio, bank sentral sedang mengevaluasi kebijakan moneter rupee digital dan kemampuannya untuk membantu mencapai target. Dia menambahkan, bank sedang melakukan pengujian untuk melihat apakah infrastruktur keuangan Indonesia siap menyerap rupee digital. Karena rupee adalah satu-satunya alat pembayaran yang sah di negara itu, PI akan membatasi versi digital mata uang untuk uang kertas dan transaksi berbasis kartu, kata Vargio.

CPTC Indonesia menghadapi persaingan yang ketat

Meskipun Indonesia melarang pembayaran mata uang kripto pada tahun 2017, negara tersebut tetap mengizinkan warganya untuk bebas berdagang mata uang kripto untuk mata uang kripto. Namun, pembatasan ini tidak menghalangi warga untuk melakukan pemanasan ke sektor yang sedang tumbuh.

Adrian Pollard, salah satu pendiri perusahaan transfer cryptocurrency label putih Pitholla, berbagi pemikirannya dengan Inves.

Indonesia telah mengadopsi cryptocurrency seperti orang gila akhir-akhir ini. Hal yang menarik tentang kebiasaan pengguna adalah mereka menerima aset yang kurang dominan seperti Doc Coin atau XRP. Sepertinya menerima apapun yang kelihatannya murah. Jika Bank Sentral Indonesia mencoba mengeluarkan CPTC mereka sendiri, saya pikir mereka akan berjuang untuk bersaing dengan aset crypto sendiri yang telah menarik perhatian masyarakat setempat.

Pollard menambahkan bahwa Indonesia adalah pengguna internet dan seluler utama. Ini sekali lagi akan menjadi tantangan bagi CPTC karena harus berjalan pada platform yang ramah pengguna dan bank lokal tidak pandai mengembangkan antarmuka pengguna.

READ  Gelombang inovasi baru di sektor konsumen karena COVID-19