Indonesia mengatakan telah mulai memulihkan data yang dienkripsi dalam serangan ransomware besar-besaran yang mempengaruhi lebih dari 160 lembaga pemerintah bulan lalu.
Para penyerang, yang dikenal sebagai Brain Cipher, meminta uang tebusan sebesar $8 juta untuk membuka data tersebut, namun kemudian meminta maaf dan melepaskan kunci dekripsi secara gratis, menurut perusahaan keamanan siber yang berbasis di Singapura, StealthMole.
Serangan itu mempengaruhi banyak layanan pemerintah, termasuk imigrasi dan operasional di bandara-bandara besar. Pihak berwenang di Indonesia mengakui bahwa banyak data yang tidak dicadangkan.
Menteri Pertahanan Hadi Tjahjanto mengatakan dalam sebuah pernyataan Kamis malam bahwa data dari 30 departemen pemerintah yang diawasi oleh 12 kementerian telah dipulihkan menggunakan “strategi enkripsi” yang tidak ditentukan.
“Kementerian Perhubungan menggunakan strategi enkripsi untuk memulihkan layanan atau aset kementerian, lembaga negara, dan pemerintah daerah yang terkena dampak. Kami menanganinya selangkah demi selangkah,” kata pernyataan itu.
Belum jelas apakah pemerintah menggunakan kunci dekripsi sandi otak tersebut. Hadi dan Menteri Komunikasi Budi Ari Chetty tidak segera menanggapi permintaan komentar.
Penyerang Ransomware menggunakan perangkat lunak untuk mengenkripsi data dan meminta pembayaran dari korban untuk memulihkan data. Indonesia mengatakan serangan itu menggunakan perangkat lunak berbahaya bernama Lockbit 3.0.

“Penggemar TV Wannabe. Pelopor media sosial. Zombieaholic. Pelajar ekstrem. Ahli Twitter. Nerd perjalanan yang tak tersembuhkan.”

More Stories
Robot Mecha Berawak Pertama Siap Produksi Diperkenalkan di China
Indonesia Buka Pasar Karbon Kehutanan untuk Masyarakat dan Dunia Usaha
Cisco Tambal Empat Celah Kritis pada Identity Services dan Webex yang Berpotensi Eksekusi Kode