BALICITIZEN

Ikuti perkembangan terkini Indonesia di lapangan dengan berita berbasis fakta PosPapusa, cuplikan video eksklusif, foto, dan peta terbaru.

Komunitas Adat di Indonesia Timur Hidupkan Kembali Sistem Perlindungan Laut Tradisional

Komunitas Adat di Indonesia Timur Hidupkan Kembali Sistem Perlindungan Laut Tradisional

Masyarakat pesisir di sejumlah pulau kecil di Indonesia timur mulai menghidupkan kembali sistem adat untuk melindungi ekosistem laut dari ancaman penangkapan ikan yang merusak dan kerusakan habitat. Langkah ini menjadi sorotan dalam dokumenter Jejak Wallacea, yang menunjukkan bagaimana pendekatan berbasis masyarakat lokal mampu menghadirkan solusi konservasi yang lebih efektif dibanding kebijakan yang dikendalikan secara terpusat.

Wilayah Wallacea dikenal sebagai salah satu kawasan dengan keanekaragaman hayati laut terkaya di dunia. Kawasan ini mencakup sejumlah pulau di Indonesia timur yang menjadi habitat berbagai spesies laut penting sekaligus sumber penghidupan masyarakat pesisir.

Sistem Adat Kembali Digunakan untuk Menjaga Laut

Dokumenter tersebut menampilkan berbagai inisiatif masyarakat di empat provinsi, yakni Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Tengah. Warga setempat menerapkan kembali metode tradisional untuk mengurangi hilangnya keanekaragaman hayati laut, mulai dari penutupan musim penangkapan ikan, sanksi adat, hingga rehabilitasi hutan mangrove.

Kawasan Laut Adat di Solor

Di Solor, Nusa Tenggara Timur, masyarakat membentuk kawasan laut lindung berbasis adat yang mereka sebut sebagai “lumbung laut” atau kebang lewa lolon. Kawasan ini digunakan untuk memulihkan terumbu karang sekaligus menjaga populasi biota laut.

Warga juga membangun penangkaran penyu dan mulai meninggalkan praktik penangkapan ikan menggunakan bom yang selama ini merusak ekosistem pesisir.

“Apa yang kami pilih adalah konservasi, tetapi berbasis kearifan lokal,” ujar Vero Lamahoda, Direktur Yayasan Tanah Ile Boleng yang mendampingi masyarakat dalam proses perubahan tersebut.

Pendekatan ini dinilai lebih mudah diterima masyarakat karena selaras dengan nilai budaya dan tradisi setempat yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Kaombo dan Aturan Adat di Sulawesi Tenggara

Di Desa Wabula, Sulawesi Tenggara, masyarakat menerapkan sistem adat bernama Kaombo. Sistem ini mengatur akses terhadap kawasan perlindungan tradisional seperti padang lamun dan hutan mangrove.

READ  Tzum | Ulasan: Behruz Poochani - Bukit adalah satu-satunya teman saya

Pelanggar aturan adat dapat dikenai denda maupun ritual tertentu, termasuk tradisi Kaleo Leo. Dalam ritual tersebut, pihak yang dituduh melanggar aturan adat akan diceburkan ke laut, dan orang yang lebih dahulu muncul ke permukaan dianggap sebagai pihak yang bersalah.

Sementara itu, masyarakat di Pulau Langkai dan Lanjukang, Sulawesi Selatan, menerapkan penutupan sementara wilayah tangkap gurita. Cara ini dilakukan untuk memberi waktu bagi populasi gurita berkembang kembali sebelum kegiatan penangkapan dibuka lagi.

Praktik seperti ini semakin mendapat perhatian karena dianggap mampu menjaga keberlanjutan sumber daya laut tanpa menghilangkan mata pencaharian nelayan lokal.

Pemulihan Spesies Laut dan Mangrove

Penelitian yang dilakukan Burung Indonesia, organisasi nasional yang berafiliasi dengan lembaga pelestarian burung dunia, menunjukkan bahwa upaya konservasi berbasis masyarakat yang ditampilkan dalam dokumenter tersebut membantu pemulihan sedikitnya tujuh spesies laut penting.

Beberapa spesies yang mengalami pemulihan antara lain ikan kardinal Banggai, penyu hijau, penyu sisik, hiu tikus pelagis, serta duyung laut.

Ribuan Tukik Dilepasliarkan

Di Sulawesi Selatan, penangkaran penyu semi-alami yang dikelola masyarakat berhasil melepas hampir 4.000 tukik ke laut. Lokasi penangkaran ini dibuat untuk melindungi telur penyu dari ancaman predator alami maupun gangguan manusia.

Selain itu, rehabilitasi hutan mangrove di Kepulauan Banggai disebut membantu menstabilkan populasi kepiting yang menjadi sumber penghasilan penting bagi warga pesisir.

Sutradara film Jejak Wallacea, Sam August Himmawan, menilai ekosistem mangrove memiliki dampak ekonomi yang besar bagi masyarakat.

“Jika mangrove hilang, maka kepiting juga akan hilang. Efek pengganda ekonominya sangat besar,” kata Himmawan.

Membutuhkan Dukungan dan Pengakuan Pemerintah

Burung Indonesia menilai keberlanjutan berbagai inisiatif berbasis adat tersebut membutuhkan pengakuan resmi serta dukungan dari pemerintah. Tanpa perlindungan hukum yang jelas, aturan adat dinilai rentan melemah di tengah tekanan ekonomi dan eksploitasi sumber daya alam.

READ  NTR - Indonesia memanggil! - Pengunjung tentang Indonesia menelepon!

Angga Yoga, spesialis program daratan di organisasi tersebut, mengatakan tujuan utama mereka adalah memperkuat kapasitas masyarakat sipil agar komunitas lokal mampu merancang mekanisme konservasi sendiri, bukan sekadar menerima larangan yang ditetapkan dari luar.

Pendekatan berbasis masyarakat ini dianggap penting di Indonesia sebagai negara kepulauan dengan garis pantai yang panjang dan ketergantungan tinggi terhadap sumber daya laut. Dengan memadukan kearifan lokal dan upaya konservasi modern, masyarakat adat di Indonesia timur menunjukkan bahwa perlindungan lingkungan dapat berjalan seiring dengan keberlanjutan ekonomi warga pesisir.

Pada akhirnya, keberhasilan pelestarian laut tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah, tetapi juga pada keterlibatan aktif masyarakat yang hidup dan bergantung langsung pada ekosistem tersebut.