BALICITIZEN

Ikuti perkembangan terkini Indonesia di lapangan dengan berita berbasis fakta PosPapusa, cuplikan video eksklusif, foto, dan peta terbaru.

Kudeta Myanmar: Warga mengungsi dari kota terbesar Myanmar

Semakin banyak penduduk yang melarikan diri dari ibu kota ekonomi Yangon karena kekerasan yang sedang berlangsung di sana. Media lokal melaporkan bahwa orang-orang pergi ke pedesaan. Tetangga Thailand mengatakan sudah membuat persiapan untuk kedatangan pengungsi. Sementara itu, Indonesia secara terbuka menyerukan diakhirinya kekerasan.

Lebih dari 230 warga sipil tewas di seluruh negeri sejak kudeta militer yang menggulingkan Aung San Suu Kyi pada 1 Februari. Jumlah korban tewas bisa meningkat tajam karena ratusan orang yang telah ditahan secara diam-diam dalam beberapa pekan terakhir ditahan atau hilang.

Hal ini menyebabkan eksodus massal di Yangon, sebuah kota berpenduduk sekitar 5 juta orang. Hal ini menyebabkan kemacetan lalu lintas di salah satu jalan utama di ibukota ekonomi pada hari Jumat. Warga mengatakan mereka tidak lagi merasa aman setelah kekerasan terus menerus oleh pihak berwenang terhadap warga sipil yang menentang kudeta.

Di media sosial, banyak orang mendorong orang lain untuk pergi karena “situasi di kota menakutkan”, tetapi beberapa meminta mereka untuk “menjauh dari ‘solidaritas'”.

Di sisi lain perbatasan, pihak berwenang Thailand sedang mempersiapkan masuknya pengungsi. “Kami mampu menampung 30.000 hingga 50.000 orang,” kata Gubernur Distrik Tak Bungrat Piromrat.

Panggilan luar biasa dari Indonesia

Sementara itu, Indonesia telah menyerukan diakhirinya kekerasan di Myanmar dan pemulihan demokrasi. Undangan luar biasa seperti sepuluh anggota ASEAN (Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara) biasanya tidak saling mengomentari urusan internal. Krisis yang dialami Myanmar saat ini tampaknya terlalu serius bagi Indonesia untuk diam saja.

Keselamatan dan kesejahteraan orang harus menjadi prioritas utama kami. “Indonesia juga mendesak dialog untuk segera rekonsiliasi untuk memulihkan demokrasi, perdamaian dan stabilitas,” kata Presiden Indonesia Joko Widodo dalam pidatonya.

READ  Perusahaan teknologi harus membayar untuk berita tersebut

Negara ini juga berada di garis depan negara-negara Asia yang mencari solusi untuk situasi di Myanmar. Namun pertemuan regional pada 3 Maret gagal menghasilkannya.

Panglima TNI juga menyampaikan keprihatinannya kepada militer Myanmar. Ini terjadi selama pertemuan di mana pemimpin kudeta Myanmar, Jenderal Min Aung Hlaing, berpartisipasi. Ini adalah pertemuan internasional pertamanya sejak penangkapan itu. Tentara Indonesia mengumumkan dirinya di situs webnya. Militer Indonesia memegang kekuasaan di negara itu selama bertahun-tahun, tetapi kemudian menarik diri sepenuhnya dari politik.