BALICITIZEN

Ikuti perkembangan terkini Indonesia di lapangan dengan berita berbasis fakta PosPapusa, cuplikan video eksklusif, foto, dan peta terbaru.

Presiden Indonesia Widodo mengungkapkan penyesalannya atas pelanggaran hak asasi manusia

Presiden Indonesia Widodo mengungkapkan penyesalannya atas pelanggaran hak asasi manusia

Protes mahasiswa pada tahun 1998

Berita NOS

Presiden Indonesia Joko Widodo telah mengakui bahwa “pelanggaran berat hak asasi manusia” terjadi di masa lalu. Dia merujuk, antara lain, pada rezim Suharto, yang berkuasa pada 1960-an setelah kudeta. Sebelum peristiwa itu, Widodo mengungkapkan penyesalannya dalam pidato di ibu kota, Jakarta.

Organisasi hak asasi manusia dan sejarawan memperkirakan bahwa di bawah rezim Suharto, yang merebut kekuasaan pada tahun 1965, setidaknya 500.000 orang tewas akibat kekerasan. Itu dihadiri oleh orang-orang keturunan Tionghoa dan orang-orang yang dituduh komunis. Diperkirakan satu juta lebih dipenjarakan dalam “pembersihan” semacam itu.

“Dengan hati nurani yang bersih saya menyadari hari ini, dalam kapasitas saya sebagai Kepala Negara, bahwa pelanggaran HAM secara masif telah terjadi beberapa kali,” kata Widodo. Dia menanggapi laporan yang memeriksa pelanggaran hak asasi manusia dalam beberapa dekade terakhir.

Organisasi hak asasi manusia sangat kritis

Widodo mengutip total 12 peristiwa antara tahun 1965 dan 2003, termasuk protes mahasiswa terhadap Suharto pada akhir 1990-an. Lusinan pengunjuk rasa telah hilang, dibunuh atau disiksa. Widodo berjanji akan memberikan kompensasi kepada para korban, meskipun dia tidak memberikan rincian lebih lanjut. Demonstrasi mengakhiri rezim Suharto yang berusia puluhan tahun pada tahun 1998.

Widodo juga menunjuk pelanggaran di provinsi Papua, di mana separatis telah berjuang untuk kemerdekaan dari Indonesia selama beberapa dekade. Pada tahun 2003 puluhan warga sipil tewas dalam operasi militer. Para prajurit telah didakwa dengan pembunuhan dan penyerangan, antara lain.