Foto: ANP
Kelompok kimia Jerman BASF menarik diri dari proyek nikel besar di Indonesia karena pulau Halmahera yang dipertanyakan adalah rumah bagi populasi terisolasi yang tidak memiliki kontak dengan dunia luar. Aktivis dari organisasi hak asasi manusia Survival International baru-baru ini berkampanye untuk menghentikan proyek tersebut.
Pada tahun 2020, BASF mengumumkan rencana untuk bersama-sama memurnikan nikel dan kobalt yang diekstraksi oleh tambang lokal Teluk Veda dengan Eramet milik Prancis. Namun ekstraksi logam tersebut mengancam kelangsungan habitat masyarakat adat Hongana Manyawa.
Lebih dari 20.000 email dikirim ke perusahaan melalui upaya Survival International. Organisasi ini juga telah melobi pihak berwenang Jerman.
Sebuah video baru-baru ini menunjukkan beberapa warga negara terpencil yang mengemis makanan di kamp pertambangan tampaknya menjadi penentu dalam kampanye tersebut. Menurut Survival International, video tersebut dibagikan secara luas di media sosial dan mendorong politisi senior Indonesia untuk mempertimbangkan masalah ini.

Surya Hidayat adalah penulis di Balicitizen.com yang meliput berbagai topik, termasuk berita terkini, politik, bisnis, teknologi, olahraga, hiburan, dan gaya hidup. Ia berfokus pada penyajian informasi yang jelas, akurat, dan mudah dipahami, sehingga membantu pembaca mengikuti perkembangan isu-isu penting. Melalui pendekatan yang objektif dan berorientasi pada fakta, Surya menghadirkan laporan serta cerita yang relevan dengan kehidupan masyarakat dan kebutuhan informasi pembaca saat ini.


Berita Lainnya
Indonesia Aktifkan Kembali Desk Karhutla untuk Antisipasi Ancaman El Niño
Komunitas Adat di Indonesia Timur Hidupkan Kembali Sistem Perlindungan Laut Tradisional
Robot Mecha Berawak Pertama Siap Produksi Diperkenalkan di China