The news is by your side.

Sudah Punya 122 Unit, Bali Rancang Tambah Koperasi Produksi

0

Oleh: Riki Z  |

Balicitizen.com, Denpasar – Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Provinsi Bali, I Gede Indra Dewa Putra menegaskan akan segera membentuk koperasi-koperasi produksi baru dengan melihat potensi daerah masing-masing.

“Saat ini ada 122 koperasi produksi yang aktif dan akan kami tambah. Misalnya di Kintamani kita bentuk koperasi khusus komoditi jeruk, di Tabanan koperasi khusus buah manggis dan seterusnya. Juga akan difasilitasi untuk secepatnya bisa terhubung dengan hotel, restoran dan pasar lain,” tandasnya.

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Bali, IB Wisnu Ardhana menjelaskan Pergub ini sangat diperlukan sebagai usaha nyata membangun ekonomi rakyat di Bali. “ Selama ini kita ada masalah di hilir, yakni untuk pemasaran produk pertanian. Lalu masalah di hulu, produk pertanian harganya jatuh, produknya cepat rusak. Dampaknya, kesejahteraan petani kurang, lemah daya saing dan rendah nilai tambah,” urai Wishnuardana.

Dengan kewajiban hotel, restoran, catering hingga swalayan untuk menyerap produk lokal Bali, menurut Wishnuardana membuka pasar yang luas sekaligus memprioritas petani lokal untuk mendapatkan pasar. “ Ini pertama kali ada peraturan, regulasi yang mengatur hingga pemasaran dan pemanfaatan,” tandasnya. “Selain itu, dengan regulasi ini swalayan wajib membeli dan menjual min 60 % produk lokal.  Hotel, restoran dan katering minimal menyerap 30 %. Sudah ada tandatangan kesanggupan mendukung pergub ini dari berbagai asosiasi hotel, restoran dan ritel. Semuanya mendukung dan menyambut baik,” jelasnya lagi.

Hal ini menanggapi Pergub No 99 tahun 2018 yang mewajibkan Toko Swalayan membeli dan menjual dengan besaran masing-masing Produk tanaman pangan, hortikultura dan perkebunan serta peternakan paling sedikit 60 % dari total volume produk yang dipasarkan. Kemudian produk perikanan lokal Bali dan industri lokal paling sedikit 30 % dari total volume produk yang dipasarkan.

Setiap hotel, restoran dan katering mengutamakan pemanfaatan dalam kegiatan usahanya dengan besaran masing-masing produk tanaman pangan, hortikultura dan perkebunan paling sedikit 30 % dari volume produk yang dibutuhkan.  Produk peternakan paling sedikit 30 % dari kebutuhan hotel dan restoran dan paling sedikit 10 % dari kebutuhan industri pengolahan/meat processing. Produk perikanan lokal Bali dan industri lokal paling sedikit 30 % dari volume produk yang dibutuhkan. Kemudian produk industri lokal paling sedikit 20 % dari volume produk yang dibutuhkan.

Pergub ini mewajibkan hotel, restoran, katering dan toko swalayan bermitra dengan petani, subak, kelompok tani, kelompok usaha produktif, asosiasi profesi, pelaku UMKM, koperasi, atau badan usaha. Pergub ini juga mewajibkan hotel, restoran, katering dan swalayan membeli produk pertanian lokal dengan harga paling sedikit 20 % di atas biaya produksi petani. Ari/Balicitizen

Berita Terkait

Leave A Reply

Your email address will not be published.