Pemerintah Indonesia kembali mengaktifkan Desk Koordinasi Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) sebagai langkah memperkuat koordinasi lintas instansi dalam menghadapi potensi peningkatan kebakaran hutan dan lahan akibat fenomena El Niño yang diperkirakan terjadi pada 2026 dan 2027. Langkah ini diambil menjelang musim kemarau yang berpotensi meningkatkan risiko kekeringan dan munculnya titik-titik panas di sejumlah wilayah rawan.
Pemerintah Siapkan Langkah Antisipatif
Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan, Djamari Chaniago, mengatakan pengaktifan kembali Desk Karhutla merupakan bagian dari upaya kesiapsiagaan pemerintah menghadapi dampak El Niño.
“Sebagai langkah antisipatif, pemerintah mengaktifkan kembali Desk Koordinasi Kebakaran Hutan dan Lahan pada 2026,” ujar Chaniago dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta.
Keputusan tersebut diumumkan dalam Rapat Koordinasi Khusus Pengendalian Karhutla 2026 bertajuk “Sinergi untuk Negeri Menghadapi El Niño 2026 dan 2027” yang berlangsung di Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta.
Menurut Chaniago, El Niño berpotensi menyebabkan penurunan curah hujan, memperpanjang periode kekeringan, meningkatkan jumlah titik panas, serta memperbesar risiko kebakaran hutan dan lahan di berbagai daerah.
Enam Provinsi Masuk Wilayah Prioritas
Pemerintah telah memetakan enam provinsi yang diperkirakan menghadapi peningkatan risiko Karhutla selama periode El Niño mendatang. Keenam provinsi tersebut adalah Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
Wilayah-wilayah tersebut selama ini menjadi daerah yang perlu mendapat perhatian khusus saat musim kemarau karena memiliki tingkat kerawanan kebakaran yang relatif tinggi.
Chaniago menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, aparat keamanan, dan seluruh pemangku kepentingan dalam upaya pencegahan serta penanggulangan Karhutla.
Perkuat Koordinasi Antarinstansi
Menurut Chaniago, pengaktifan kembali Desk Karhutla diperlukan untuk memastikan koordinasi antarinstansi berjalan lebih efektif dan menghindari tumpang tindih tugas di lapangan.
Sebelumnya, sejumlah lembaga yang terlibat dalam Desk Karhutla meliputi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), Tentara Nasional Indonesia (TNI), Kementerian Kehutanan, Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Dalam Negeri, serta pemerintah daerah.
Melalui wadah koordinasi tersebut, setiap instansi diharapkan dapat menjalankan perannya secara terintegrasi sehingga penanganan kebakaran dapat dilakukan lebih cepat dan tepat.
Fokus pada Kesiapsiagaan dan Deteksi Dini
Dalam rapat koordinasi tersebut, Chaniago meminta seluruh gubernur, Pangdam, Kapolda, kepala daerah, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta pihak terkait lainnya untuk meningkatkan kesiapsiagaan sejak dini.
Ia menekankan pentingnya mengoptimalkan posko siaga, memperkuat patroli terpadu, meningkatkan sistem deteksi dini, memastikan kesiapan personel dan peralatan, serta melibatkan dunia usaha dan masyarakat dalam upaya pencegahan Karhutla.
Menurutnya, keterlibatan berbagai pihak menjadi faktor penting untuk meminimalkan dampak kebakaran yang dapat merugikan lingkungan, kesehatan masyarakat, hingga aktivitas ekonomi.
Desk Karhutla Pernah Dibubarkan pada 2025
Desk Karhutla dan Satgas Karhutla sebelumnya dibubarkan setelah kondisi kebakaran hutan dan lahan dinilai terkendali pada 2025. Setelah pembubaran tersebut, penanganan Karhutla kembali diserahkan kepada masing-masing kementerian dan lembaga sesuai tugas serta kewenangan yang dimiliki.
Sebelumnya, pengendalian Karhutla mengacu pada Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2020 dan Keputusan Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Nomor 29 Tahun 2025.
Melalui regulasi tersebut, BNPB bertanggung jawab melaksanakan berbagai operasi penanganan Karhutla, termasuk operasi darat, operasi udara melalui patroli dan water bombing, serta kegiatan modifikasi cuaca.
Meski Desk Karhutla dan Satgas Karhutla sempat dibubarkan, BNPB memastikan upaya kesiapsiagaan dan pencegahan kebakaran hutan dan lahan tetap berjalan sesuai mekanisme yang telah ditetapkan.
Koordinasi Nasional Diharapkan Lebih Efektif
Pemerintah berharap pengaktifan kembali Desk Karhutla dapat memperkuat koordinasi nasional dalam menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan selama periode El Niño 2026–2027. Dengan koordinasi yang lebih terintegrasi dan kesiapan yang ditingkatkan sejak dini, penanganan Karhutla diharapkan dapat berlangsung lebih cepat, efektif, dan mampu mengurangi dampak yang ditimbulkan terhadap masyarakat maupun lingkungan.

“Spesialis budaya pop. Ahli makanan yang setia. Praktisi musik yang ramah. Penggemar twitter yang bangga. Penggila media sosial. Kutu buku bepergian.”

More Stories
Komunitas Adat di Indonesia Timur Hidupkan Kembali Sistem Perlindungan Laut Tradisional
Robot Mecha Berawak Pertama Siap Produksi Diperkenalkan di China
Indonesia Buka Pasar Karbon Kehutanan untuk Masyarakat dan Dunia Usaha