The news is by your side.

Fahri Hamzah ‘Serang’ Isi Pidato Jokowi yang Dinilai Tak Jelas

0

Oleh: Rudi Hasan  |  

Balicitizen.com, Denpasar – Kritik pedas kembali dilayangkan oleh Wakil Ketua DPR, Fahri Hamzah. Dia mengkritik pidato Visi Indonesia yang disampaikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di SICC, Bogor, Jawa Barat, Ahad (14/7). Fahri menilai cara presiden untuk sampai kepada kesimpulan ‘Bersatu’ sangat berbau ‘pembangunanisme’.

Narasi yang disampaikan Jokowi dalam pidato Visi Indonesia sudah ramah di telinga masyarakat sebagai Trilogi Pembangunan. Trilogi Pembangunan itu yakni stabilitas, pertumbuhan, dan pemerataan.

“Dengan versi baru 5 tahap mencapai Visi Indonesia itu semua soal pembangunan. Lalu, dengan landasan bahwa dunia kita semakin dinamis, presiden ingin memaksa bangsa ini untuk berubah. Tanpa menjelaskan mau ke mana, lalu semua harus bersatu,” cuit Fahri, Senin (15/7).

Dia melanjutkan, presiden memuji ‘oposisi dengan syarat’. Ini yang kelak akan menjadi persoalan dan harus diperdebatkan.

Menurut dia, pemerintah apapun alirannya, tidak boleh membuat syarat sepihak atas konsensus demokrasi. Ia harus berlandas hukum. Ini adalah makna negara hukum yang demokratis dalam konstitusi Indonesia.

“Pancasila, agama, adat ketimuran bukan milik pemerintah, ia milik bersama,” katanya.

Dia mengatakan, dulu sebelum reformasi, pemerintah memakai pancasila untuk menyerang kelompok kiri dan kanan. Selain itu, juga menggunakan nilai ‘ketimuran’ dan agama serta sopan santun untuk membungkam para pembicara yang kritis kepada pemerintah.

“Ada trauma di generasi tertentu pada terminologi yg dulu kita lawan,” kata dia.

Persoalan itu yang harus dibicarakan. Maka itu, dia mendorong para juru bicara pasangan Jokowi-Ma’ruf untuk menjelaskan secara lebih luas makna pidato singkat itu. Ini dikarenakan pidato itu harus bisa menjadi bahan perdebatan semua Indonesia.

“Sebab, Nawa cita, poros maritim, dan revolusi mental sudah tidak terdengar. Sekarang kita ingin tau kita akan di bawa ke mana; bagaimana masa depan kebebasan? Bagaiman dengan demokrasi? Apa jawaban pemerintah atas menguatnya oposisi? Itu semua PR masa depan rezim baru ini,” ucapnya.

Dia meminta agar pemerintah tidak memandang mudah persoalan yang telah disebutkan. Ini karena dalam demokrasi semua orang perlu makan dan pekerjaan, tapi mereka tidak mau makan dalam keadaan terkekang dalam sangkar emas pembangunan.

“Inilah catatan singkat saya bagi juru bicara para pemenang. Kami menunggu jawaban,” kata Fahri. Ari/INI/Balicitizen

Berita Terkait

Leave A Reply

Your email address will not be published.