BALICITIZEN

Ikuti perkembangan terkini Indonesia di lapangan dengan berita berbasis fakta PosPapusa, cuplikan video eksklusif, foto, dan peta terbaru.

Pakar orangutan Belanda itu tak lagi diterima di Indonesia setelah dikritik

Pakar orangutan Belanda itu tak lagi diterima di Indonesia setelah dikritik

AP

Berita NOSdiubah

Ahli biologi Belanda Eric Maigard, yang telah berburu orangutan selama tiga puluh tahun, tidak lagi diizinkan masuk ke taman alam di Indonesia. Ada di koran Pos Jakarta Dia mengkritik kebijakan Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup Indonesia dan kini sedang dihukum.

Pada hari Senin, pada Hari Orangutan Internasional, menteri memuji kebijakan satwa liar pimpinannya dan mengatakan hewan itu tidak terancam punah. Menurutnya, jumlah penduduk terus bertambah.

Megard dan banyak ahli terkemuka lainnya kemudian menulis opini di surat kabar Indonesia tentang studi ilmiah baru-baru ini yang menunjukkan sebaliknya. Menurut para ahli, jumlah orangutan telah menurun selama beberapa dekade dan tidak ada tanda-tanda pertumbuhan populasi di manapun.

Seorang pakar orangutan Belanda kini tak lagi diperbolehkan melakukan penelitian di taman alam di Indonesia. kata Meijaard masuk Majalah NOS Radio 1.

Di alam liar, orangutan hanya hidup di hutan hujan Kalimantan dan Sumatera. Meijaard telah memperingatkan selama bertahun-tahun bahwa kera besar tidak baik-baik saja. Menurutnya, lebih dari setengah populasi Kalimantan telah hilang sejak 1999.

Kera besar menghilang terutama karena kombinasi deforestasi dan pembangunan perkebunan kelapa sawit. Namun menurut Megard, antara 1.500 dan 2.500 manusia dibunuh oleh pemburu setiap tahun.

Megard mengatakan dia hanya bisa menebak mengapa pemerintah Indonesia menyimpulkan bahwa populasi orangutan tidak buruk. “Pemerintah mengukur dengan cara tertentu di sembilan taman alam, tapi menurut saya metode pengukuran itu tidak dapat diandalkan.”

Prihatin dengan kualitasnya

Meijaard tidak tahu bagaimana harus bertindak sekarang. “Saya tidak khawatir dengan masa depan saya, karena saya bisa bekerja dimana saja, tapi saya khawatir dengan kualitas penelitian ilmiah di Indonesia.”