324 orang meninggal di Pakistan karena diare, malaria dan infeksi kulit yang disebabkan oleh banjir parah di negara itu. Pihak berwenang Pakistan memperingatkan, pada hari Rabu, bahwa situasi dapat memburuk jika bantuan yang diperlukan tidak tersedia.
Ratusan ribu orang telah mengungsi dan terpaksa tinggal di luar rumah. Kurangnya fasilitas air minum bersih dan sanitasi, antara lain. Air yang tergenang digunakan sebagai sumber air. Ada juga risiko tinggi mengembangkan masalah kesehatan yang serius.
Fasilitas kesehatan sementara dan rumah sakit bergerak di daerah banjir telah merawat jutaan orang karena penyakit yang ditularkan melalui air. Organisasi Kesehatan Dunia memperingatkan bahwa penyebaran penyakit bisa berubah menjadi “bencana kedua”.
Banjir terjadi akibat curah hujan yang tinggi pada musim panas. Sekitar sepertiga dari negara itu terendam banjir. Ketinggian air sudah menurun di beberapa tempat, tetapi mungkin perlu dua hingga enam bulan lagi sebelum air benar-benar hilang.
Banjir tersebut menewaskan sekitar 1.600 orang. Sekitar 33 juta orang di negara ini telah terkena dampak bencana alam. Kerugian diperkirakan mencapai $30 miliar (30,3 miliar euro).

Rangga Kusnadi adalah penulis di Balicitizen.com yang meliput berbagai topik, termasuk berita, politik, bisnis, teknologi, olahraga, hiburan, dan gaya hidup. Ia berfokus pada penyajian informasi yang jelas, akurat, dan mudah dipahami, sehingga pembaca dapat mengikuti perkembangan isu terkini dengan lebih baik. Melalui pendekatan yang informatif dan berimbang, Rangga menghadirkan berita serta cerita yang relevan dengan kehidupan masyarakat dan kebutuhan pembaca sehari-hari.

Berita Lainnya
Foto yang digunakan influencer Belanda untuk menyebarkan propaganda pro-Trump
Ukraina mungkin mengerahkan pesawat F-16 Belanda di Rusia
Anak-anak Jerman meninggal setelah sebuah lubang runtuh di bukit pasir di Denmark