BALICITIZEN

Ikuti perkembangan terkini Indonesia di lapangan dengan berita berbasis fakta PosPapusa, cuplikan video eksklusif, foto, dan peta terbaru.

Sebuah film tentang seorang biarawati misionaris Jerman tayang perdana di Indonesia

Sebuah film tentang seorang biarawati misionaris Jerman tayang perdana di Indonesia

Penayangan perdana film tentang peninggalan seorang biarawati misionaris Katolik dan pusat rehabilitasi korban kusta di Indonesia yang ia dirikan berlangsung pada 12 Januari. 30.

film- Ab (atas) normalMemoar pelayanan Rasulullah kepada kaum marginal – Dipentaskan pertama kali di Pusat Rehabilitasi Penyandang Cacat dan Kusta St. Damian di Kankar, Kabupaten Manggarai, di bawah Keuskupan Ruteng.

Pusat ini didirikan oleh tokoh utama dalam film tersebut, Suster Virgula Maria Schmidt kelahiran Jerman dari Kongregasi Hamba Roh Kudus (SSpS) pada tahun 1965 dan saat ini beroperasi di 46 negara.

Judul film yang tidak biasa ini, menurut pembuatnya, dimaksudkan untuk menyampaikan bahwa penyandang disabilitas dan penderita kusta bukanlah orang yang abnormal sebagaimana persepsi masyarakat yang salah, namun mereka mandiri, kreatif, dan pekerja keras.

Sutradara Arène Dambus mengatakan pemutaran perdana juga merayakan Hari Kusta Sedunia, yang berlangsung pada hari Minggu terakhir bulan Januari.

Dambose menambahkan, film berdurasi satu jam yang diproduksi oleh Rumah Baka Aksara Creative Group yang berbasis di Ruteng ini akan ditayangkan di sekolah, universitas, dan institusi.

Dambose mengatakan film tersebut berkisah tentang Suster Virgola dan pusat rehabilitasi.

Ia mengatakan, menurut kami, ia pantas disebut sebagai salah satu pahlawan kemanusiaan.

Suster Virgola tiba di Manggarai pada tahun 1965. Ia kembali ke biara pusat kongregasi di Steel, Belanda, pada tahun 2014 dan meninggal pada tahun 2022.

Selama tinggal di Manggarai, suster itu juga mendirikan pusat rehabilitasi di Pinongko, Kabupaten Manggarai Barat.

READ  Requiem untuk Pasangan Kraft

Dalam wawancara pada bulan Januari 2011, Virgola mengatakan bahwa pertemuannya dengan seorang pasien kusta yang ditinggalkan oleh keluarganya di hutan memaksanya untuk mendirikan pusat rehabilitasi pada tahun 1965.

Dambose mengatakan, menyoroti kisah biarawati itu sebagai upaya untuk menyadarkan karena kasih sayang manusia dalam hubungan sosial semakin berkurang di Manggarai.

Oleh karena itu, mereka memilih membuat film dokumenter dengan subjek manusia, catat Dambose.

Ia mengatakan, film tersebut bisa mengubah stigma yang ada pada pasien kusta.

Geryl Ngalong, Koordinator Roma Baka Aksara, Ia mengatakan, film tersebut menunjukkan semangat pengabdian dan perbuatan baik Suster Virgola

Saya sudah lama berpikir tentang bagaimana mengabadikan kisah pelayanan penuh kasih di pusat rehabilitasi ini,” kata Suster Franceline Isabella Sabo, SSpS, pemimpin Yayasan St. Damian.

Suster tersebut mengatakan bahwa dia mengapresiasi dan mendukung inisiatif pemuda untuk melanjutkan pekerjaan pusat rehabilitasi.

Ia menambahkan, dengan adanya kerjasama produksi film ini, diharapkan karya cinta yang dikenang Suster Virgola selamanya dapat diketahui banyak orang, terus hidup dan berlanjut.