The news is by your side.

Zeina Nassar, Petinju Wanita Berhijab Asal Jerman

0

Oleh: Anisa Tri Kusuma |

Ia adalah sosok yang berperan mengubah peraturan berhijab dalam pertandingan tinju di Jerman

Balicitizen.com, Jakarta — Nama Zeina Nassar mungkin masih asing bagi Anda. Memulai kariernya sebagai petinju pada 2013 silam, Nassar merupakan petinju perempuan pertama di Jerman yang bertanding dengan mengenakan hijab.

Awalnya, Nassar sempat dilarang untuk bertanding mengenakan hijab karena aturan dari International Boxing Association (Asosiasi Tinju Internasional) yang melarang penggunaan segala atribut keagamaan–termasuk hijab, dalam pertandingan.

Perjuangan untuk bisa bertanding mengenakan hijab tidaklah mudah. Ia dan pelatihnya kerap menghadiri berbagai konferensi untuk mendesak perubahan aturan penggunaan hijab tersebut.

Permohonan ini sempat menjadi isu perdebatan di dunia tinju Jerman. Namun, berkat kerja keras, pembuktian, dan dukungan dari pelatih, ia sukses menjadi petinju berhijab yang menyabet berbagai penghargaan. Nassar sukses menjadi juara Berlin Boxchampionship selama lima kali, dan mendapatkan posisi ketiga di Boxchampion of Germany 2017.

Ia juga menjadi salah satu muse dalam kampanye Nike Pro Hijab yang diluncurkan pada 2017 lalu. “Ini membuat saya sadar, apa yang saya perjuangkan bukanlah untuk diri saya sendiri, namun untuk semua perempuan berhijab yang merasa terbatasi. Ini (perubahan aturan) mungkin momen kemenangan di sepanjang karier saya,” papar Nassar seperti dikutip dari Material Magazine.

Sebagai perempuan berhijab, ia harus membuktikan dirinya dua kali lebih keras dari rekan-rekan petinju lainnya.

“Saya tidak ingin dipandang sebelah mata hanya karena penampilan saya, atau hijab yang saya pakai. Jangan terpaku pada agama apa yang saya yakini (Islam),  pada akhirnya, yang terpenting adalah bagaimana saya menjalani profesi ini (tinju),” ungkapnya kepada Fizzy Magazine.

Nassar tidak menampik bahwa setiap ia menginjakkan kaki di atas ring pertandingan, selalu ada penilaian negatif dari orang-orang yang menyaksikan pertandingan. Namun, semua berubah ketika ia dinyatakan menang.

“Saya melawan segala prasangka buruk seorang petinju dengan mengenakan hijab. Saya harus melawan stigma bahwa perempuan yang mengenakan hijab adalah seseorang yang tak berpendidikan atau dipaksa memakainya. Saya membuktikan mereka salah, bahwa hal tersebut sangatlah klise,” tambahnya.

Kini, ia sedang memperjuangkan haknya dan petinju berhijab lainnya agar dapat bertanding di liga internasional. Ia berharap dapat mengubah aturan yang dibuat oleh International Boxing Association.

“Impian saya adalah untuk mengubah aturan internasional agar memungkinkan perempuan dari semua latar belakang untuk bisa bertarung. Anda harus berjuang untuk membuat suatu perubahan,” tulis Nassar di unggahan Instagram pribadinya.

Penggunaan hijab di atas ring pertandingan memang masih menjadi isu yang dipermasalahkan hingga saat ini. Contohnya di 2016 silam, seorang petinju asal AS, Amaiya Zafar, dilarang berkompetisi di kejuraan Nasional Sugar Bert Boxing di Florida.

Pada saat itu, Michael Martino, Direktur Eksekutif dari International Boxing Association (Asosiasi Tinju Internasional) mengatakan bahwa penggunaan hijab dapat mengganggu masalah keamanan dalam bertanding.

Namun, satu tahun kemudian, USA Boxing mencabut larangan pemakaian atribut agama dan Zafar dapat kembali bertanding mengenakan hijabnya.

Baik Nassar maupun Zafar mereka berharap agar International Boxing Association dapat mengikuti langkah USA Boxing dalam merubah aturan kode etik atribut pakaian yang memperbolehkan penggunaan hijab  saat bertanding. Dengan begitu, keduanya bisa ikut bertanding di Olimpiade 2020 mendatang. (Kbb)

Berita Terkait

Leave A Reply

Your email address will not be published.