Selama Festival Musim Panas Rotterdam pada tahun 1990, seniman Ruben La Cruz pertama kali memprotes ide-ide kolonial yang digambarkan dalam The Golden Coach. Baru pada tahun 2011 kritik tersebut mendapat perhatian publik yang lebih luas berkat surat terbuka di nrc.next. Seruan agar bufet kontroversial itu dihapus dan ditempatkan di museum terdengar seperti bom. Mantan Anggota DPR Harry Van Pommel menulis artikel atas nama SP. Surat itu ditandatangani oleh Geoffrey Bondak dari Dutch Honorary Loans Group.
Bondac membawa gambar di panel sebelahnya ke perhatian von Pommel. Ia melihat keterwakilan orang Indonesia sebagai aib. Baginya, Belanda tidak tahu apa artinya melihat pelatih emas mengemudi dengan gambar itu ke Riddersaal di Prinsjestock.
Dia juga melihat dalam film itu kesalahpahaman tentang sejarah kita dengan Indonesia. Kami berbicara dengan Bondak tentang niatnya: ‘Kami tertindas. Belanda menjadi makmur dari ini, dan kekayaan yang ditambahkan oleh Belanda tidak terbatas sampai hari ini.’ Menurut Bondak, orang-orang di Belanda hanya tahu sedikit tentang sejarah bersama Indonesia dan Belanda: ‘Mereka sama sekali tidak tahu apa yang terjadi di sana.’

“Penggemar TV Wannabe. Pelopor media sosial. Zombieaholic. Pelajar ekstrem. Ahli Twitter. Nerd perjalanan yang tak tersembuhkan.”

More Stories
Robot Mecha Berawak Pertama Siap Produksi Diperkenalkan di China
Indonesia Buka Pasar Karbon Kehutanan untuk Masyarakat dan Dunia Usaha
Cisco Tambal Empat Celah Kritis pada Identity Services dan Webex yang Berpotensi Eksekusi Kode