BALICITIZEN

Ikuti perkembangan terkini Indonesia di lapangan dengan berita berbasis fakta PosPapusa, cuplikan video eksklusif, foto, dan peta terbaru.

Perang di Ukraina berdampak juga di Asia: yang menang dan yang kalah











Perang di Ukraina memiliki konsekuensi yang luas tidak hanya untuk Ukraina dan Barat. Menurut Economist Intelligence Unit, negara-negara Asia tidak menyerah dengan apa yang terjadi di Eropa Timur.

Harga pangan, pariwisata, pasokan senjata: Perang antara Rusia dan Ukraina juga mempengaruhi negara-negara Asia.

  • Rusia dan Ukraina sekarang dikenal sebagai eksportir utama produk pertanian, termasuk pupuk. Harga biji-bijian dan pupuk telah meningkat tajam dalam beberapa pekan terakhir. EIU mencatat bahwa negara-negara di Asia Selatan dan Tenggara sangat terpengaruh. Asia Timur Laut – Cina dan Taiwan, produsen utama chip elektronik – mengalami kesulitan memasok gas langka.
  • Perang di Ukraina juga mempengaruhi pariwisata Asia. Thailand, misalnya, menerima 1,4 juta turis Rusia per tahun. EIU mencatat bahwa Rusia masih dapat melakukan perjalanan ke Asia tanpa masalah, tetapi keinginan Rusia untuk bepergian dipengaruhi oleh sanksi Barat dan depresiasi rubel.
  • Rusia adalah pemasok senjata terbesar kedua di dunia. EIU mengatakan telah menjadi pemasok senjata utama ke China, India dan Vietnam selama dua dekade terakhir. Perang, tentu saja, akan mencegah transaksi jangka menengah lebih lanjut.

Pemenang dan pecundang

Naiknya harga komoditas, termasuk nikel, akan melemahkan atau memperkuat banyak negara. Berdasarkan laporan EIU, media bisnis Amerika CNBC Terdaftar pemenang dan pecundang dari krisis.

Pemenang:

  • Eksportir Batubara: Australia, Indonesia, Mongolia
  • Eksportir Minyak Mentah: Malaysia, Brunei
  • Gas alam cair: Australia, Malaysia, Papua Nugini
  • Pemasok Nikel: Indonesia, Kaledonia Baru
  • Pemasok Gandum: Australia, India
READ  Ibukota baru Indonesia akan disebut Nusantara

Pecundang:

  • Pupuk dari Rusia / Ukraina: Indonesia (lebih dari 15 persen), Vietnam (lebih dari 10 persen), Thailand (lebih dari 10 persen), Malaysia (lebih dari 10 persen), India (lebih dari 6 persen), Bangladesh (lebih dari 5 persen), Myanmar (sekitar 3 persen), Sri Lanka (sekitar 2 persen).
  • Biji-bijian dari Rusia: Pakistan (sekitar 40 persen), Sri Lanka (lebih dari 30 persen), Bangladesh (lebih dari 20 persen), Vietnam (sekitar 10 persen), Thailand (sekitar 5 persen), Filipina (sekitar 5 persen), Indonesia (kurang dari 5 persen), Myanmar (kurang dari 5 persen), Malaysia (kurang dari 5 persen).
  • Biji-bijian dari Ukraina: Pakistan (lebih dari 40 persen), Indonesia (lebih dari 20 persen), Bangladesh (lebih dari 20 persen), Thailand (lebih dari 10 persen), Myanmar (lebih dari 10 persen), Sri Lanka (lebih dari 10 persen), Vietnam (kurang dari 5 persen), Filipina (sekitar 5 persen), Malaysia (sekitar 5 persen).

Impor senjata dari Rusia

  • Senjata dari Rusia: Mongolia (sekitar 100 persen), Vietnam (lebih dari 80 persen), Cina (sekitar 80 persen), India (lebih dari 60 persen), Laos (lebih dari 40 persen), Myanmar (sekitar 40 persen), Malaysia (lebih dari 20 persen), Indonesia (lebih dari 10 persen), Bangladesh (lebih dari 10 persen), Nepal (lebih dari 10 persen), Pakistan (kurang dari 10 persen).

(N.S./ Lpkan